Onlain bookmaker bet365.com - the best bokie

REVIEW MEKANISME MADU SEBAGAI ANTIKANKER ALAMI POTENSIAL

 

Oleh : Sarfraz Ahmed and Nor Hayati Othman

Diterjemahkan dari ncbi.nlm.nih.gov

sel-kanker

Abstrak

Pengobatan utama untuk kanker adalah dengan menggunakan kemoterapi dan radioterapi yang menjadi racun bagi sel tubuh lain yang sehat. Baru-baru ini, ada banyak penelitian yang berfokus pada penggunaan produk alami untuk pencegahan dan pengobatan kanker.

 

Diantara produk-produk alami ini, madu telah banyak diteliti secara ekstensif. Mekanisme aktivitas anti kanker madu sebagai obat kemopreventif dan terapeutik belum sepenuhnya bisa dipahami. Mekanisme yang mungkin terjadi adalah faktor aprottosis, antiproliferatif, antitumor nekrosis (anti-TNF), antioksidan, anti-inflamasi, aktivitas estrogenik dan imunomodulatoris. Kami menyusun temuan beberapa penelitian yang diterbitkan dalam literatur untuk memahami mekanisme tindakan madu dalam memerangi kanker.

1. Pendahuluan

Setiap tahun, sekitar 11 juta orang didiagnosis menderita kanker dan menyebabkan 7,6 juta kasus kematian di seluruh dunia [1]. Kanker adalah proses multistep. Dimulai sebagai onset dari satu sel yang bertransformasi. Permulaannya ditandai oleh proliferasi yang cepat, invasi, dan metastasis [2]. Proses ini dipicu oleh berbagai agen karsinogenik, penyebab tumor, dan agen peradangan. Seluruh modulasi dikendalikan melalui faktor transkripsi, protein proapoptotik, protein antiapoptosis, protein kinase, protein siklus sel, molekul perekat sel, cyclooxygenase-2 (COX-2), dan target molekular lainnya [2-4].

Perlakuan standar terhadap kanker adalah operasi, radioterapi, dan kemoterapi. Modalitas ini disertai oleh efek samping yang serius [5]. Tujuan baru untuk perawatan kanker berfokus pada mengganggu molekul yang tertarget secara spesifik yang dibutuhkan dalam karsinogenesis [6].

Produk alami seperti madu memiliki potensi efek antikanker [7]. Madu terdiri dari berbagai macam gula, flavonoid, asam fenolik, enzim, asam amino, protein, dan senyawa lainnya (Tabel 1). Komposisinya bervariasi tergantung dengan asal geografis dan sumber nektar bunga [8]. Madu telah terbukti memiliki efek antiinflamasi [9], antimikroba [10], antimutagenik [11], antioksidan [12], dan antitumor [7, 13, 14]. Kandungan fenolik madu  dilaporkan memiliki aktivitas antileukemic terhadap berbagai jenis sel leukemia [15]. Aktivitas antikankernya telah terbukti ampuh melawan berbagai jenis sel kanker dan jaringan, seperti payudara [14, 16-19], kolorektal [20], ginjal [21], prostat [17], endometrium [17], serviks [19] dan kanker mulut [22].

 

Tabel 1

Komposisi rata-rata referensi sumber madu, [82, 83].

Component Value/100 g
Total carbohydrates 82.4 g
Fructose 38.5 g
Glucose 31.28 g
Sucrose 1.31 g
Maltose 7.31 g
Total acid as gluconic 0.57 g
Moisture content 17.1 g
Ash 0.169 g
Amino acids 0.3 g
Nitrogen 0.041 g
Iron 0.42 mg
Potassium 52 mg
Calcium 6.00 mg
Phosphorous 4.00 mg
Magnesium 2.00 mg
Calcium 6.00 mg
pH 3.9

Madu berpotensi memiliki aktivitas antitumor sebagai obat kemoterapi seperti halnya 5-fluorourasil dan siklofosfamid [18]. Studi menunjukkan efek antikanker oleh madu, mulai dari pada berbagai  dari kultur jaringan [17, 19, 20, 22, 23] hingga pada model hewan [14, 16, 18, 24] juga terhadap uji klinis [25]. Polifenol yang terkandung dalam madu dianggap sebagai salah satu faktor utama yang berperan penting dalam hal yang berkaitan dengan aktivitas antikanker madu [15, 26].

Kajian ini menyajikan progres saat ini dalam memahami mekanisme aktivitas antikanker madu.

2. Madu dan Aktivitas Apoptosisnya

Sel kanker mempunyai dua karakteristik yaitu proliferasi seluler yang tidak terkontrol dan omset apoptosis yang tidak memadai [27]. Obat yang biasa digunakan untuk pengobatan kanker adalah inducer apoptosis [28]. Kematian sel terprogram atau apoptosis dikategorikan menjadi tiga fase: (a) fase induksi, (b) fase efektor, dan (c) fase degradasi [29]. Fase induksi menstimulasi kaskade transduksi sinyal prokapoptotik melalui sinyal penyebab kematian sel. Fase efektor memastikan kematian sel melalui regulator utama, yaitu mitokondria. Fase terakhir yaitu fase degradasi terdiri dari even nukleus dan sitoplasma. Perubahan nukleus meliputi kromatin dan kondensasi nukleus, penyusutan sel, fragmentasi DNA, dan penonjolan membran plasma sel [28, 29]. Di dalam sitoplasma, sebuah rangkaian kompleks enzim pemecah protein yang disebut caspases diaktifkan. Sel ini akhirnya ditujukan ke dalam tubuh apoptosis terfragmentasi yang difagositosis oleh makrofag atau sel sekitarnya lainnya [28, 29].

Apoptosis biasanya melalui dua jalur: jalur caspase 8 atau death-receptor dan caspase 9 atau jalur mitokondria [30] (Gambar 1).

Apoptosis melalui jalur caspase 8 dan caspase 9

Apoptosis melalui jalur caspase 8 dan caspase 9; sumber [30]. Bcl-2: protein sel B limfoma 2; Bid: Bcl-2 terkait protein X; Cyt. C: sitokrom C; Apaf-1: faktor pengaktifan protease apoptosis; IAP: penghambat protein apoptosis; Caspase 3-caspase ...

Madu menginduksi apoptosis pada berbagai jenis sel kanker dengan cara depolarisasi membran mitokondria [19]. Madu meningkatkan tingkat aktivasi caspase 3 dan pembelahan poli (ADP-ribosa) polimerase (PARP) pada sel kanker usus manusia [20] karena  kandungan triptofan dan fenolik yang tinggi pada madu[20]. Madu juga menginduksi apoptosis dengan cara mengatur dan memodulasi ekspresi protein pro- dan antiapoptosis pada sel kanker usus besar [23]. Madu meningkatkan ekspresi caspase 3, p53, dan protein proapoptotik Bax dan menurunkan ekspresi protein antiapoptosis Bcl2 [23] (Gambar 2). Madu menghasilkan ROS (spesies oksigen reaktif) yang menghasilkan aktivasi p53 dan p53 pada gilirannya memodulasi ekspresi protein pro- dan antiapoptosis seperti Bax dan Bcl-2 [23]. Madu sebagai terapi ajuvan dengan lidah buaya mampu meningkatkan ekspresi protein Bepto proapoptotik dan menurunkan ekspresi protein Bp-2 antipoptotik pada tikus Wistar [14]. Madu Manuka memberikan efek apoptosisnya pada sel kanker melalui induksi caspase 9 yang pada gilirannya mengaktifkan caspase-3, protein pelaksana. Apoptosis yang diinduksi oleh madu Manuka juga melibatkan induksi fragmentasi DNA, aktivasi PARP, dan hilangnya ekspresi Bcl-2 [31]. Sifat apoptosis madu menjadikannya zat alami yang mungkin sebagai agen anti kanker karena banyak kemoterapi yang banyak digunakan saat ini adalah penginduksi apoptosis.

Efek madu pada jalur apoptosis

Efek madu pada jalur apoptosis. Madu memberikan efek apoptosis melalui peningkatan regulasi dan modulasi protein proapoptotik (p53, Bax, caspase 3, dan caspase 9) dan penurunan regulasi protein antiapoptosis (Bcl-2) [14, 23, 31]. Bcl-2: sel B ...

3. Madu dan Aktivitas Antiproliferatifnya

Sel epitel terus membelah sepanjang hidup. Siklus sel terdiri dari tiga fase yang dikenal sebagai G0, G1, S, dan G2 M. Semua kejadian dalam siklus sel diatur dan dipantau oleh beberapa protein yang berbeda. Panel kontrol siklus sel terdiri dari siklin dan kinase yang bergantung pada siklin. Transisi fase G1 / S adalah titik pengaturan penting di mana takdir sel ditentukan dalam hal ketenangan, proliferasi, diferensiasi dan apoptosis [32]. Overekspresi  dan disregulasi dari faktor pertumbuhan siklus sel seperti siklin D1 dan cyclin-dependent kinases (CDK) terkait dengan tumorigenesis [32]. Hilangnya regulasi ini adalah ciri khas kanker [32]. Protein nukleus Ki-67 adalah penanda baru untuk menyelidiki "fraksi pertumbuhan" proliferasi sel. Hal ini tidak ada dalam fase istirahat (G0) namun dinyatakan selama siklus sel di semua fase proliferasi (G1, S, G2, dan mitosis) [33].

Madu telah terbukti mempengaruhi penangkapan siklus sel. Pemberian madu dicampur dengan larutan lidah buaya menunjukkan penurunan ekspresi ki67-LI yang signifikan pada sel tumor pada tikus [14]. Hal ini menunjukkan bahwa terapi madu dapat menyebabkan penurunan proliferasi sel tumor dengan menangkap siklus sel [14]. Honey dan beberapa komponennya (seperti flavonoid dan fenolat) dilaporkan menghambat siklus sel kolon [20], glioma [34], dan melanoma [35] jalur sel kanker pada fase G0 / G1. Efek penghambatan pada proliferasi sel tumor ini mengikuti regulasi penurunan banyak jalur sel melalui tirosoksinase tirosin, ornithine decarboxylase, dan kinase [20, 34-36]. Hasil pengujian 3- (4,5-dimethylthiazol-2-yl) -2,5-diphenyl tetrazolium bromide (MTT) dan uji trypan blue exclusion telah mengkonfirmasi bahwa efek anti-proliferasi madu adalah bersifat bergantung pada dosis dan waktu. cara [35]. Madu atau komponennya memediasi penghambatan pertumbuhan sel karena perturbasinya terhadap siklus sel [35, 36]. Siklus sel juga diatur oleh p53 yang terlibat dalam penekanan tumor. Madu dilaporkan terlibat dalam memodulasi regulasi p53 [20].

4. Madu dan Efeknya terhadap Tumor Necrosis Factor (TNF)

 

Tumor necrosis factor (TNF), telah dibuktikan bisa memediasi timbulnya, promosi, dan perkembangan tumor [37]. Efek proinflamasi TNF terkait dengan banyak penyakit karena kemampuannya untuk mengaktifkan NF-kB [38]. TNF juga mengaktifkan NF-kB, yang mengarah ke ekspresi gen inflamasi seperti molekul lipoksigenase-2 (LOX-2), cyclooxygenase-2 (COX-2), molekul adhesi, kemokin, oksida nitrat oksida yang dapat diinduksi (iNOS), dan sitokin inflamasi. [38]. TNF dianggap sebagai salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan bagi banyak sel tumor [38]. Akan tetapi, secara kontradiktif TNF-α juga telah terbukti terlibat dalam mekanisme pertahanan sel inang sebagai sitokin kunci [39]. TNF telah terbukti memainkan peran ganda, bermanfaat dan merusak untuk mendukung atau menghambat penyakit menular [39, 40].

Protein Royal jelly (RJ) (apalbumin-1 dan apalbumin-2) pada madu memiliki sifat antitumor. Protein ini merangsang makrofag untuk melepaskan sitokinitas TNF-α, interleukin-1 (IL-1) dan interlueken-6 (IL-6) [41, 42]. Pasture, jelly bush, dan madu manuka (pada konsentrasi 1% w / v) merangsang monosit untuk melepaskan TNF-α  dan interleukin- (IL-) 1β dan IL-6 [43, 44]. Mekanisme yang mungkin melibatkan dalam pengikatan TNF-R ke TNF-α dan protein adaptor seperti TNFR related death domain protein (TRADD), faktor terkait reseptor TNF (TRAF), dan protein interaksi reseptor (RIP) untuk mengatur apoptosis dan inflamasi melalui sitokin ini [45]. Pelepasan TNF-α ini dapat memainkan peran penting sebagai sitokin kunci untuk mengatur proses seluler penting seperti apoptosis, proliferasi sel, dan inflamasi [41, 45].

5. Madu dan Aktivitas Anti-Inflamasi dan Imunomodulatorinya

 

Peradangan kronis terkait dengan pembentukan kanker. Peradangan berlebihan atau berkepanjangan dapat mencegah penyembuhan dengan cara merusak jaringan. Madu menunjukkan respon antiinflamasi [46]. Literatur menunjukkan bahwa madu mengurangi peradangan saat diterapkan dalam kultur sel [47], model hewan [48, 49], dan uji klinis [46, 50]. Proses inflamasi diinduksi oleh berbagai jenis bahan kimia dan / atau agen biologis termasuk enzim proinflamasi dan sitokin [51]. Enzim siklooksigenase-2 (COX-2) dalam proses inflamasi mampu mengkatalisis proses metabolisme yang mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin [52, 53]. Metabolisme asam arakhidonat yang tidak normal terlibat dalam karsinogenesis dan inflamasi [54]. COX-2 diekspresikan secara berlebihanan pada kondisi  pra ganas dan ganas (tumor) [54]. Senyawa fenolik dalam madu bertanggung jawab atas aktivitas antiinflamasi [55]. Mekanisme ini melibatkan penekanan aktivitas proinflamasi COX-2 dan atau inducible nitric oxide synthase (iNOS) melalui senyawa fenolik atau flavonoid ini[53]. Madu dan komponennya telah didokumentasikan terlibat dalam regulasi protein seperti ornithine decarboxylase, tyrosine kinase, iNOS, dan COX-2 [56, 57].

Manuka, Pasture, Nigerian Jungle, dan royal jelly diketahui mampu meningkatkan produksi IL-1β, IL-6, dan TNF-α [16, 44, 58]. Aktivitas imunomodulator dan imunoprotektif madu ini sering dikaitkan dengan tindakan antikanker [16, 59]. Madu merangsang antibodi, limfosit B dan T, neutrofil, monosit, eosinofil, dan sel pembunuh alami (sel NK) selama respon imun primer dan sekunder dalam kultur jaringan [59-62]. Telah ditunjukkan bahwa madu merangsang makrofag, sel T, dan sel B untuk merangsang efek antitumor [59].

Gula saat dicerna diserap secara perlahan sehingga menghasilkan produk fermentasi asam lemak rantai pendek (SCFA) [63]. Hal ini adalah kemungkinan mekanisme yang terkait bahwa konsumsi madu dapat menyebabkan pembentukan SCFA [64]. Penelitian telah menetapkan bahwa, baik secara langsung maupun tidak langsung, SCFA memiliki tindakan imunomodulator [65]. Dengan demikian, madu dapat merangsang sistem kekebalan tubuh melalui gula yang dapat difermentasi ini [66]. Sebuah zat gula, nigerooligosaccharides (NOS), yang terkandung dalam madu telah ditemukan memiliki aktivitas immunopotentiating [67]. Komponen non gula madu juga bertanggung jawab atas imunomodulasi [66].

6. Madu dan Aktivitas Antioksidannya

Peran stres oksidatif  yang melibatkan radikal bebas dalam proses karsinogenik sudah diketahui secara luas [68]. Spesies oksigen reaktif (ROS) dan spesies nitrogen reaktif (RNS), seperti radikal hidroksil (• OH) superoksida (O2 • -), hidrogen peroksida (H2O2), oksida nitrat (NO •), peroksinitrit (ONOO-), dan lain-lain , adalah agen stres oksidatif yang merusak lipid, protein, dan DNA dalam sel [69]. Sel menunjukkan sistem pertahanan melawan kerusakan oksidatif. Sistem pertahanan ini terdiri dari antioksidan atau zat pelindung oksidatif seperti katalase, superoksida dismutase, peroksidase, asam askorbat, tocopherol, dan polifenol [70]. Antioksidan yang berfungsi sebagai pembasmi radikal bebas dapat menghambat proses kanker secara in vivo [70]. Mekanisme antioksidan yang tepat tidak diketahui, namun mekanisme yang diusulkan adalah melalui pemberian hidrogen, penyerapan radikal bebas, khelasi ion logam, substrat flavonoid untuk aksi radikal hidroksil dan superoksida [71]. Kapasitas antioksidan madu berkontribusi terhadap pencegahan beberapa gangguan akut dan kronis seperti diabetes [72], gangguan inflamasi [73], penyakit kardiovaskular [74], dan kanker [75, 76]. Asam fenolik dan flavonoid bertanggung jawab atas aktivitas antioksidan madu yang telah diakui [77].

Efek antitumor madu dapat dikaitkan dengan aktivitas antioksidannya [75, 76]. Status antioksidan yang ditingkatkan dengan apoptosis telah diamati pada sel karsinoma hepatoselular [75]. Konsumsi harian 1,2 g / kg berat badan madu telah dobuktikan mampu  untuk meningkatkan jumlah dan aktivitas agen antioksidan seperti beta karoten, vitamin C, glutathione reduktase, dan asam urat [60].

7. Madu dan Aktivitas Antimutageniknya

Mutagenisitas, yaitu kemampuan untuk menginduksi mutasi genetik, saling terkait dengan karsinogenisitas [78]. Madu terbukti memiliki agen antimutagenik yang kuat dan karenanya memiliki sifat antikarsinogenik [79]. Efek madu terhadap sel Escherichia coli yang terpapar radiasi (UV atau γ) menunjukkan respons SOS (SOS adalah jalur perbaikan rawan kesalahan yang berkontribusi terhadap mutagenisitas) [79]. Sebuah penelitian dilakukan untuk melumpuhkan beberapa gen penting seperti umuC, recA, dan umuD yang terlibat dalam mutagenesis yang dimediasi SOS. Perubahan ini secara signifikan dihambat dengan adanya madu yang mengkonfirmasi efek antimutageniknya yang kuat [79]. madu yang berasal bunga yang berbeda menunjukkan efek penghambatan mutagenitas Trp-p-1 [11].

8. Madu dan Aktivitas Modulasi Estrogeniknya

Estrogen terlibat dalam beberapa jenis kanker [80]. Madu memodulasi estrogen dengan tindakan antagonisnya. Ini mungkin berguna pada kanker yang bergantung pada estrogen seperti kanker payudara dan kanker endometrium [17]. Reseptor estrogen terikat pada  estrogen untuk dimerisasi dan kemudian translokasi ke nukleus. Kompleksitas ini kemudian mengikat urutan dasar DNA spesifik yang disebut dengan elemen respons estrogen (EREs) yang menghasilkan transkripsi dan translasi efek estrogenik pada jaringan target [80]. Sinyal kaskade yang diinduksi oleh estrogen  ini dapat dimodulasi pada setiap tahap [80]. Madu dari berbagai sumber flora dilaporkan memediasi efek estrogenik melalui modulasi aktivitas reseptor estrogen [17, 81]. Efek ini disebabkan oleh kandungan fenoliknya [17]. Ekstrak madu Yunani memberikan efek agonistik estrogen pada konsentrasi tinggi (20-100 lg / mL) dan efek antagonis pada konsentrasi rendah (0,2-5 μg / mL) [17].

9. Kesimpulan

Banyak bukti telah berkembang bahwa madu mungkin berpotensi menjadi agen antikanker melalui beberapa mekanisme (Gambar 3). Meskipun mekanisme keseluruhan madu belum sepenuhnya dipahami, penelitian telah menunjukkan bahwa madu memiliki efek antikanker melalui interferensi dengan jalur pensinyalan sel, seperti menginduksi jalur apoptosis, antiproliferatif, anti-inflamasi, dan antimutagenik. Madu memodulasi sistem kekebalan tubuh. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab; Mengapa gula bersifat karsinogenik, sedangkan madu yang pada dasarnya gula memiliki sifat antikarsinogenik. Madu dari berbagai sumber flora mungkin memberi efek yang berbeda. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan pemahaman kita tentang efek positif dari madu dan kanker. Apa yang terlihat dalam kultur sel atau eksperimen hewan mungkin tidak berlaku pada manusia. Percobaan klinis terkontrol acak prospektif diperlukan untuk memvalidasi keotentikan madu baik untuk pengobatan secara mandiri atau sebagai terapi adjuvant (terapi tambahan).

 

Skema presentasi aktivitas antikanker madu

Skema presentasi aktivitas antikanker madu.

 

 

Referensi

1. Cancer, 2013, http://www.who.int/cancer/en/

2. Shishodia S, Majumdar S, Banerjee S, Aggarwal BB. Ursolic acid inhibits nuclear factor-κB activation induced by carcinogenic agents through suppression of IκBα kinase and p65 phosphorylation: correlation with down-regulation of cyclooxygenase 2, matrix metalloproteinase 9, and cyclin D1. Cancer Research. 2003;63(15):4375–4383. [PubMed]

3. Wang J, Lenardo MJ. Roles of caspases in apoptosis, development, and cytokine maturation revealed by homozygous gene deficiencies. Journal of Cell Science. 2000;113(5):753–757. [PubMed]

4. Aggarwal BB, Shishodia S. Molecular targets of dietary agents for prevention and therapy of cancer. Biochemical Pharmacology. 2006;71(10):1397–1421. [PubMed]

5. Chari RVJ. Targeted cancer therapy: conferring specificity to cytotoxic drugs. Accounts of Chemical Research. 2008;41(1):98–107. [PubMed]

6. Goldman B. Combinations of targeted therapies take aim at multiple pathways. Journal of the National Cancer Institute. 2003;95(22):1656–1657. [PubMed]

7. Othman NH. Honey and cancer: sustainable inverse relationship particularly for developing nations—a review. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine. 2012;2012:10 pages.410406 [PMC free article] [PubMed]

8. Gheldof N, Wang XH, Engeseth NJ. Identification and quantification of antioxidant components of honeys from various floral sources. Journal of Agricultural and Food Chemistry. 2002;50(21):5870–5877. [PubMed]

9. Cooper RA, Molan P, Krishnamoorthy L, Harding K. Manuka honey used to heal a recalcitrant surgical wound. European Journal of Clinical Microbiology and Infectious Diseases. 2001;20(10):758–759. [PubMed]

10. Sherlock O, Dolan A, Athman R, et al. Comparison of the antimicrobial activity of Ulmo honey from Chile and Manuka honey against methicillin-resistant Staphylococcus aureus, Escherichia coli and Pseudomonas aeruginosa . BMC Complementary and Alternative Medicine. 2010;10, article 47 [PMC free article] [PubMed]

11. Wang XH, Andrae L, Engeseth NJ. Antimutagenic effect of various honeys and sugars against Trp-p-1. Journal of Agricultural and Food Chemistry. 2002;50(23):6923–6928. [PubMed]

12. Al-Mamary M, Al-Meeri A, Al-Habori M. Antioxidant activities and total phenolics of different types of honey. Nutrition Research. 2002;22(9):1041–1047.

13. Swellam T, Miyanaga N, Onozawa M, et al. Antineoplastic activity of honey in an experimental bladder cancer implantation model: in vivo and in vitro studies. International Journal of Urology. 2003;10(4):213–219. [PubMed]

14. Tomasin R, Cintra Gomes-Marcondes MC. Oral administration of Aloe vera and honey reduces walker tumour growth by decreasing cell proliferation and increasing apoptosis in tumour tissue. Phytotherapy Research. 2011;25(4):619–623. [PubMed]

15. Abubakar MB, Abdullah WZ, Sulaiman SA, Suen AB. A review of molecular mechanisms of the anti-leukemic effects of phenolic compounds in honey. International Journal of Molecular Sciences. 2012;13(11):15054–15073. [PMC free article] [PubMed]

16. Fukuda M, Kobayashi K, Hirono Y, et al. Jungle honey enhances immune function and antitumor activity. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine. 2011;2011:8 pages.908743 [PMC free article] [PubMed]

17. Tsiapara AV, Jaakkola M, Chinou I, et al. Bioactivity of Greek honey extracts on breast cancer (MCF-7), prostate cancer (PC-3) and endometrial cancer (Ishikawa) cells: profile analysis of extracts. Food Chemistry. 2009;116(3):702–708.

18. Gribel NV, Pashinskiĭ VG. The antitumor properties of honey. Voprosy Onkologii. 1990;36(6):704–709. [PubMed]

19. Fauzi AN, Norazmi MN, Yaacob NS. Tualang honey induces apoptosis and disrupts the mitochondrial membrane potential of human breast and cervical cancer cell lines. Food and Chemical Toxicology. 2011;49(4):871–878. [PubMed]

20. Jaganathan SK, Mandal M. Honey constituents and their apoptotic effect in colon cancer cells. Journal of ApiProduct and ApiMedical Science. 2009;1(2):29–36.

21. Samarghandian S, Afshari JT, Davoodi S. Honey induces apoptosis in renal cell carcinoma. Pharmacognosy Magazine. 2011;7(25):46–52. [PMC free article] [PubMed]

22. Ghashm AA, Khattak MN, Ismail NM, Saini R. Antiproliferative effect of Tualang honey on oral squamous cell carcinoma and osteosarcoma cell lines. BMC Complementary and Alternative Medicine. 2010;10, article 49 [PMC free article] [PubMed]

23. Jaganathan SK, Mandal M. Involvement of non-protein thiols, mitochondrial dysfunction, reactive oxygen species and p53 in honey-induced apoptosis. Investigational New Drugs. 2010;28(5):624–633. [PubMed]

24. Orsolic N, Knezevic A, Sver L, Terzic S, Hackenberger BK, Basic I. Influence of honey bee products on transplantable murine tumours. Veterinary and Comparative Oncology. 2003;1(4):216–226. [PubMed]

25. Smirnova II, Filatova EI, Suvorov AN, Bylinskaia EN. The use of therapeutic/prophylactic dragee “honey laminolact” in radiotherapy of uterine tumors. Voprosy Onkologii. 2000;46(6):748–750. [PubMed]

26. Jaganathan SK, Mandal M. Antiproliferative effects of honey and of its polyphenols: a review. Journal of Biomedicine and Biotechnology. 2009;2009:13 pages.830616 [PMC free article] [PubMed]

27. Nicholson DW. From bench to clinic with apoptosis-based therapeutic agents. Nature. 2000;407(6805):810–816. [PubMed]

28. Earnshaw WC. Nuclear changes in apoptosis. Current Opinion in Cell Biology. 1995;7(3):337–343. [PubMed]

29. Susin SA, Zamzami N, Kroemer G. Mitochondria as regulators of apoptosis: doubt no more. Biochimica et Biophysica Acta. 1998;1366(1-2):151–165. [PubMed]

30. Andersen MH, Becker JC, Straten PT. Regulators of apoptosis: suitable targets for immune therapy of cancer. Nature Reviews Drug Discovery. 2005;4(5):399–409. [PubMed]

31. Fernandez-Cabezudo MJ, El-Kharrag R, Torab F, et al. Intravenous administration of manuka honey inhibits tumor growth and improves host survival when used in combination with chemotherapy in a melanoma mouse model. PLoS ONE. 2013;8(2)e55993 [PMC free article] [PubMed]

32. Diehl JA. Cycling to cancer with cyclin D1. Cancer Biology and Therapy. 2002;1(3):226–231. [PubMed]

33. Scholzen T, Gerdes J. The Ki-67 protein: from the known and the unknown. Journal of Cellular Physiology. 2000;182(3):311–322. [PubMed]

34. Lee YJ, Kuo H, Chu C, Wang C, Lin W, Tseng T. Involvement of tumor suppressor protein p53 and p38 MAPK in caffeic acid phenethyl ester-induced apoptosis of C6 glioma cells. Biochemical Pharmacology. 2003;66(12):2281–2289. [PubMed]

35. Pichichero E, Cicconi R, Mattei M, Muzi MG, Canini A. Acacia honey and chrysin reduce proliferation of melanoma cells through alterations in cell cycle progression. International Journal of Oncology. 2010;37(4):973–981. [PubMed]

36. Oršolić N, Benković V, Lisičić D, Dikić D, Erhardt J, Knežević AH. Protective effects of propolis and related polyphenolic/flavonoid compounds against toxicity induced by irinotecan. Medical Oncology. 2010;27(4):1346–1358. [PubMed]

37. Moore RJ, Owens DM, Stamp G, et al. Mice deficient in tumor necrosis factor-alpha are resistant to skin carcinogenesis. Nature Medicine. 1999;5(7):828–831. [PubMed]

38. Sugarman BJ, Aggarwal BB, Hass PE. Recombinant human tumor necrosis factor-α: effects on proliferation of normal and transformed cells in vitro . Science. 1985;230(4728):943–945. [PubMed]

39. Chouaib S, Branellec D, Buurman WA. More insights into the complex physiology of TNF. Immunology Today. 1991;12(5):141–142. [PubMed]

40. Schlüter D, Deckert M. The divergent role of tumor necrosis factor receptors in infectious diseases. Microbes and Infection. 2000;2(10):1285–1292. [PubMed]

41. Šimúth J, Bíliková K, Kováčová E, Kuzmová Z, Schroder W. Immunochemical approach to detection of adulteration in honey: physiologically active royal jelly protein stimulating TNF-α release is a regular component of honey. Journal of Agricultural and Food Chemistry. 2004;52(8):2154–2158. [PubMed]

42. Majtán J, Kováčová E, Bíliková K, Šimúth J. The immunostimulatory effect of the recombinant apalbumin 1-major honeybee royal jelly protein-on TNFα release. International Immunopharmacology. 2006;6(2):269–278. [PubMed]

43. Tonks AJ, Cooper RA, Jones KP, Blair S, Parton J, Tonks A. Honey stimulates inflammatory cytokine production from monocytes. Cytokine. 2003;21(5):242–247. [PubMed]

44. Tonks A, Cooper RA, Price AJ, Molan PC, Jones KP. Stimulation of TNF-α release in monocytes by honey. Cytokine. 2001;14(4):240–242. [PubMed]

45. MacEwan DJ. TNF ligands and receptors—a matter of life and death. The British Journal of Pharmacology. 2002;135(4):855–875. [PMC free article] [PubMed]

46. Subrahmanyam M. A prospective randomised clinical and histological study of superficial burn wound healing with honey and silver sulfadiazine. Burns. 1998;24(2):157–161. [PubMed]

47. Candiracci M, Piatti E, Dominguez-Barragán M, et al. Anti-inflammatory activity of a honey flavonoid extract on lipopolysaccharide-activated N13 microglial cells. Journal of Agricultural and Food Chemistry. 2012;60(50):12304–12311. [PubMed]

48. Leong AG, Herst PM, Harper JL. Indigenous New Zealand honeys exhibit multiple anti-inflammatory activities. Innate Immunity. 2012;18(3):459–466. [PubMed]

49. Bilsel Y, Bugra D, Yamaner S, Bulut T, Cevikbas U, Turkoglu U. Could honey have a place in colitis therapy? Effects of honey, prednisolone, and disulfiram on inflammation, nitric oxide, and free radical formation. Digestive Surgery. 2002;19(4):306–311. [PubMed]

50. Al-Waili NS, Boni NS. Natural honey lowers plasma prostaglandin concentrations in normal individuals. Journal of Medicinal Food. 2003;6(2):129–133. [PubMed]

51. Dao TT, Chi YS, Kim J, Kim HP, Kim S, Park H. Synthesis and inhibitory activity against COX-2 catalyzed prostaglandin production of chrysin derivatives. Bioorganic and Medicinal Chemistry Letters. 2004;14(5):1165–1167. [PubMed]

52. Griswold DE, Adams JL. Constitutive cyclooxygenase (COX-1) and inducible cyclooxygenase (COX-2): rationale for selective inhibition and progress to date. Medicinal Research Reviews. 1996;16(2):181–206. [PubMed]

53. Cho H, Yun C, Park W, et al. Modulation of the activity of pro-inflammatory enzymes, COX-2 and iNOS, by chrysin derivatives. Pharmacological Research. 2004;49(1):37–43. [PubMed]

54. Hong J, Smith TJ, Ho C, August DA, Yang CS. Effects of purified green and black tea polyphenols on cyclooxygenase- and lipoxygenase-dependent metabolism of arachidonic acid in human colon mucosa and colon tumor tissues. Biochemical Pharmacology. 2001;62(9):1175–1183. [PubMed]

55. Viuda-Martos M, Ruiz-Navajas Y, Fernández-López J, Pérez-Álvarez JA. Functional properties of honey, propolis, and royal jelly. Journal of Food Science. 2008;73(9):R117–R124. [PubMed]

56. Hussein SZ, Yusoff KM, Makpol S, Yusof YAM. Gelam honey inhibits the production of proinflammatory, mediators NO, PGE(2), TNF-alpha, and IL-6 in carrageenan-induced acute paw edema in rats. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine. 2012;2012:13 pages.109636 [PMC free article] [PubMed]

57. Araújo JR, Gonçalves P, Martel F. Chemopreventive effect of dietary polyphenols in colorectal cancer cell lines. Nutrition Research. 2011;31(2):77–87. [PubMed]

58. Timm M, Bartelt S, Hansen EW. Immunomodulatory effects of honey cannot be distinguished from endotoxin. Cytokine. 2008;42(1):113–120. [PubMed]

59. Attia WY, Gabry MS, El-Shaikh KA, Othman GA. The anti-tumor effect of bee honey in Ehrlich ascite tumor model of mice is coincided with stimulation of the immune cells. The Egyptian Journal of Immunology. 2008;15(2):169–183. [PubMed]

60. Al-Waili NS. Effects of daily consumption of honey solution on hematological indices and blood levels of minerals and enzymes in normal individuals. Journal of Medicinal Food. 2003;6(2):135–140. [PubMed]

61. Abuharfeil N, Al-Oran R, Abo-Shehada M. The effect of bee honey on the proliferative activity of human B- and T-lymphocytes and the activity of phagocytes. Food and Agricultural Immunology. 1999;11(2):169–177.

62. Al-Waili NS, Haq A. Effect of honey on antibody production against thymus-dependent and thymus-independent antigens in primary and secondary immune responses. Journal of Medicinal Food. 2004;7(4):491–494. [PubMed]

63. Kruse H, Kleessen B, Blaut M. Effects of inulin on faecal bifidobacteria in human subjects. The British Journal of Nutrition. 1999;82(5):375–382. [PubMed]

64. Sanz ML, Polemis N, Morales V, et al. In vitro investigation into the potential prebiotic activity of honey oligosaccharides. Journal of Agricultural and Food Chemistry. 2005;53(8):2914–2921. [PubMed]

65. Schley PD, Field CJ. The immune-enhancing effects of dietary fibres and prebiotics. The British Journal of Nutrition. 2002;87(supplement 2):S221–S230. [PubMed]

66. Chepulis LM. The effect of honey compared to sucrose, mixed sugars, and a sugar-free diet on weight gain in young rats. Journal of Food Science. 2007;72(3):S224–S229. [PubMed]

67. Murosaki S, Muroyama K, Yamamoto Y, Liu T, Yoshikai Y. Nigerooligosaccharides augments natural killer activity of hepatic mononuclear cells in mice. International Immunopharmacology. 2002;2(1):151–159. [PubMed]

68. Gutteridge JMC, Halliwell B. Comments on review of free radicals in biology and medicine, second edition, by Barry Halliwell and John M. C. Gutteridge. Free Radical Biology and Medicine. 1992;12(1):93–95. [PubMed]

69. Orrenius S, Gogvadze V, Zhivotovsky B. Mitochondrial oxidative stress: implications for cell death. Annual Review of Pharmacology and Toxicology. 2007;47:143–183. [PubMed]

70. Block G. The data support a role for antioxidants in reducing cancer risk. Nutrition Reviews. 1992;50(7):207–213. [PubMed]

71. van Acker SABE, van den Berg D, Tromp MNJL, et al. Structural aspects of antioxidant activity of flavonoids. Free Radical Biology and Medicine. 1996;20(3):331–342. [PubMed]

72. Erejuwa OO, Sulaiman SA, Wahab MS, Sirajudeen KNS, Salleh MSMD, Gurtu S. Antioxidant protection of Malaysian tualang honey in pancreas of normal and streptozotocin-induced diabetic rats. Annales d’Endocrinologie. 2010;71(4):291–296. [PubMed]

73. Akkol EK, Orhan DD, Gürubüz I, Yesilada E. In vivo activity assessment of a “honey-bee pollen mix” formulation. Pharmaceutical Biology. 2010;48(3):253–259. [PubMed]

74. Rakha MK, Nabil ZI, Hussein AA. Cardioactive and vasoactive effects of natural wild honey against cardiac malperformance induced by hyperadrenergic activity. Journal of Medicinal Food. 2008;11(1):91–98. [PubMed]

75. Hassan MI, Mabrouk GM, Shehata HH, Aboelhussein MM. Antineoplastic effects of bee honey and Nigella sativa on hepatocellular carcinoma cells. Integrative Cancer Therapies. 2012;11(4):354–363. [PubMed]

76. Dragan S, Nicola T, Ilina R, et al. Role of multi-component functional foods in the complex treatment of patients with advanced breast cancer. Revista Medico-Chirurgicala a Societatii de Medici si Naturalisti din Iasi. 2007;111(4):877–884. [PubMed]

77. Nagai T, Sakai M, Inoue R, Inoue H, Suzuki N. Antioxidative activities of some commercially honeys, royal jelly, and propolis. Food Chemistry. 2001;75(2):237–240.

78. Tsutsui T, Hayashi N, Maizumi H, Huff J, Barrett JC. Benzene-, catechol-, hydroquinone- and phenol-induced cell transformation, gene mutations, chromosome aberrations, aneuploidy, sister chromatid exchanges and unscheduled DNA synthesis in Syrian hamster embryo cells. Mutation Research. 1997;373(1):113–123. [PubMed]

79. Saxena S, Gautam S, Maru G, Kawle D, Sharma A. Suppression of error prone pathway is responsible for antimutagenic activity of honey. Food and Chemical Toxicology. 2012;50(3-4):625–633. [PubMed]

80. Gruber CJ, Tschugguel W, Schneeberger C, Huber JC. Production and actions of estrogens. The New England Journal of Medicine. 2002;346(5):340–352. [PubMed]

81. Zaid SSM, Sulaiman SA, Sirajudeen KNM, Othman NH. The effects of tualang honey on female reproductive organs, tibia bone and hormonal profile in ovariectomised rats—animal model for menopause. BMC Complementary and Alternative Medicine. 2010;10, article 82 [PMC free article] [PubMed]

82. Eteraf-Oskouei T, Najafi M. Traditional and modern uses of natural honey in human diseases: a review. Iranian Journal of Basic Medical Sciences. 2013;16(6):731–742. [PMC free article] [PubMed]

83. Bogdanov S, Jurendic T, Sieber R, Gallmann P. Honey for nutrition and health: a review. Journal of the American College of Nutrition. 2008;27(6):677–689. [PubMed]

 

Artikel dari Alat Pelengkap dan Pengobatan Alternatif Berbasis Bukti: eCAM disediakan di sini dari Hindawi Limited

Официален блог на WebEKM EKM очаквайте сайта онлайн скоро.

Download Free Templates http://bigtheme.net/ free full Wordpress, Joomla, Mgento - premium themes.

Website ini hanya bersifat informasinal dan tidak dimaksudkan mendiagnosis,
merawat, atau mencegah penyakit atau kondisi medis apapun. Sebelum
menggunkan bahan-bahan untuk pengobatan alami, disarankan untuk
untuk berkonsultasi dengan petugas medis profesional berlisensi.

Copyright © 2017 thibbun-nabawi.com

Powered by Warp Theme Framework
REVIEW MEKANISME MADU SEBAGAI ANTIKANKER ALAMI POTENSIAL