Onlain bookmaker bet365.com - the best bokie

MADU MANUKA : TIDAK LAGI SEKEDAR PENGOBATAN ALTERNATIF

 

Oleh : Dee A. Carter,  Shona E. Blair, Nural N. Cokcetin, Daniel Bouzo, Peter Brooks, Ralf Schothauer4 dan Elizabeth J. Harry

Diterjemahkan dari ncbi.nlm.nih.gov

madu manuka

Abstrak

Penelitian madu secara medis sedang menjalani kebangkitan yang substansial. Dari obat tradisional yang dulunya hanya dianggap sebagai pengobatan alternatif, sekarang kita melihat peningkatan minat ilmuwan, praktisi klinis dan masyarakat umum dalam penggunaan  madu sebagai terapi.

Ada sejumlah hal yang dorong minat ini: pertama, meningkatnya resistensi antibiotik oleh banyak jenis bakteri patogen telah mendorong minat untuk mengembangkan dan menggunakan antibakteri baru; Kedua, meningkatnya jumlah studi terpercaya dan laporan kasus menunjukkan bahwa madu tertentu sangat efektif digunakan untuk merawat luka; Ketiga, madu terapeutik dipatok dengan harga premium, dan industri madu secara aktif mempromosikan studi yang mendukung khasiat madu ini; dan yang terakhir, sifat madu yang sangat kompleks dan agak tak terduga memberikan tantangan yang menarik bagi ilmuwan laboratorium. Dalam makalah ini kami meninjau penelitian madu manuka, dari studi observasional mengenai efek antimikrobanya sampai pada percobaan eksperimental dan mekanistik saat ini yang bertujuan untuk membuat madu menjadi pengobatan mainstream (bukan sekedar pengobatan alternatif). Kami menguraikan kesenjangan saat ini dan kontroversi yang tersisa dalam pengetahuan kita tentang bagaimana madu bekerja, dan menyarankan penelitian baru yang bisa mendorong madu bukan lagi dianggap hanya sekadar pengobatan alternatif.

Kata kunci: madu manuka, antibakteri, Leptospermum, metil glyoxal, produk alami

Pengantar

Madu telah digunakan sebagai obat tradisional sepanjang sejarah peradaban umat manusia. Salah satu penggunaan terapeutik madu yang paling umum dan terus-menerus adalah sebagai pembalut luka, hampir pasti karena khasiat antimikrobanya. Dengan munculnya antibiotik yang sangat aktif di tahun 1960an, madu kemudian dianggap sebagai zat "tidak berharga tapi tidak berbahaya" (Soffer, 1976). Namun, saat ini dan karena meningkatnya krisis resistensi antibiotik telah membangkitkan minat pada penggunaan madu kembali, baik sebagai agen efektif yang sesuai dengan kandungannya dan sebagai petunjuk terapeutik untuk mengembangkan metode pengobatan baru. Madu biasanya berasal dari nektar bunga dan diproduksi oleh lebah, yang paling umum adalah lebah madu Eropa Apis mellifera, dan madu merupakan gabungan yang kompleks dari gula, asam amino, fenolat, dan zat lainnya. Jenis madu yang berasal dari tanaman bunga yang berbeda sangat bervariasi dalam hal kemampuannya membunuh bakteri, dan hal  ini membuat rumit literatur tentang madu dan membuatnya terkadang sulit untuk mendapat hasil yang sama pada berbagai penelitian (Allen et al., 1991; Irish et al., 2011) . Sebagian besar penelitian terbaru yang menyelidiki mekanisme kerja madu telah berfokus pada madu manuka  yang terstandarisasi, yang diproduksi oleh spesies Leptospermum tertentu yang berasal dari Selandia Baru dan Australia, yang telah terdaftar sebagai produk perawatan luka pada badan pengawas medis yang sesuai. Jadi, kecuali karenakan hal lain, ulasan ini akan hanya berfokus pada madu manuka.

Analisis Kimia Madu Manuka Aktif

Profesor Peter Molan dari Universitas Waikato, Selandia Baru, adalah orang pertama yang melaporkan aktivitas madu manuka yang tidak biasa dan mulai menguji khasiatnya melawan berbagai jenis bakteri yang berbeda pada pertengahan tahun 1980an. Namun, meski sudah jelas bahwa madu manuka dengan konsentrasi rendah mampu membunuh bakteri patogen, bahan aktif spesifik yang bertanggung jawab dalam hal ini tetap sulit dipahami selama bertahun-tahun. Kadar gula tinggi dan tingkat pH rendah membuat madu bersifat menghambat pertumbuhan mikroba, namun aktivitas ini tetap ada meski pada saat madu diencerkan sampai tingkat yang dapat diabaikan. Banyak jenis madu juga menghasilkan hidrogen peroksida saat glukosa oksidase, yang berasal dari lebah madu, bereaksi dengan glukosa dan air. Namun, pada madu manuka produksi  peroksida hidrogen relatif rendah dan bisa dinetralisir dengan katalase, namun aktivitas antimikroba tetap ada. Penyebab aktivitas ini, yang dijuluki "aktivitas non-peroksida" atau NPA, akhirnya terungkap pada tahun 2008, ketika dua laboratorium secara independen mengidentifikasi methyl glyoxal (MGO) pada madu manuka (Adams et al., 2008; Mavric et al., 2008; ). MGO dihasilkan dari dehidrasi spontan prekursor dihydroxyacetone (DHA), sebuah fitokimia yang terjadi secara alami yang ditemukan di nektar bunga Scoparium Leptospermum, poliokuinolium Leptospermum, dan beberapa spesies Leptospermum terkait yang berasal dari Selandia Baru dan Australia (Adams et al., 2009; Williams et al., 2014; Norton et al., 2015). MGO dapat bereaksi relatif non-spesifik dengan makromolekul seperti DNA, RNA dan protein (Adams et al., 2008; Mavric et al., 2008; Majtan et al., 2014b), dan secara teoritis dapat menjadi racun bagi sel mamalia (Kalapos, 2008). Namun, tidak ada bukti kerusakan sel inang saat madu manuka dikonsumsi secara oral atau digunakan sebagai pembalut luka; Memang madu tampaknya merangsang penyembuhan dan mengurangi jaringan parut saat digunakan mengobati luka (Biglari et al., 2013; Majtan, 2014; Dart dkk, 2015). Bagaimana zat  toksisitas ini selektif terhadap sel bakteri tidak diketahui.

MGO dengan kadar tinggi atau hidrogen peroksida biasanya menghasilkan madu yang paling aktif, namun korelasi tidak selalu sempurna mengingat komponen madu lainnya juga dapat memodulasi aktivitas (Molan, 2008; Kwakman et al., 2011; Chen et al., 2012; Lu et al., 2013). Bee defensin-1, peptida yang berasal dari antimikroba bertanggung jawab atas aktivitas dalam madu Revamil, madu aktif yang dihasilkan dari sumber yang tidak diketahui, namun hal ini tampaknya secara struktural dimodifikasi dan tidak aktif dalam madu manuka (Kwakman et al., 2011; Majtan et al., 2012). Tingkat leptosin, glikosida yang ditemukan secara eksklusif pada madu Leptospermum, berkorelasi dengan potensi dan dapat memodulasi aktivitas antimikroba madu manuka (Kato et al., 2012). Demikian pula, berbagai senyawa fenolik dengan aktivitas antimikroba potensial juga ada, terutama pada madu berwarna gelap, dan meskipun hal ini muncul pada tingkat yang tidak mungkin bersifat memhambar madu secara mandiri, mereka dapat bersinergi satu sama lain atau komponen madu lainnya untuk menghasilkan atau mengubah aktivitas. (Estevinho et al., 2008; Stephens et al., 2010). Phenolics juga dapat bertindak sebagai antioksidan dan mungkin bertanggung jawab untuk sifat anti-inflamasi dan penyembuhan luka madu (Stephens et al., 2010). Perlu dicatat bahwa tidak semua spesies Leptospermum menghasilkan madu aktif, dan bahkan di dalam kadar L. scoparium dan L. polygalifolium tingkat MGO dapat berkisar dari ~ 100 sampai> 1200 ppm (Windsor et al., 2012). Sebuah survei tentang aktivitas madu Australia menemukan bahwa madu yang berasal dari tanaman Leptospermum yang tumbuh di sekitar perbatasan New South Wales-Queensland sangat aktif, namun apakah ini disebabkan oleh tanaman, tanah, iklim atau faktor lainnya masih belum diketahui (Irish et al., 2011) .

Penghambatan Patogen oleh Madu

Madu telah diuji secara in vitro pada beragam patogen, terutama yang dapat menyerang kulit, luka dan membran mukosa, di mana pengobatan madu topikal dimungkinkan. Sampai saat ini, tes in vitro telah menemukan madu manuka dapat secara efektif menghambat semua bakteri patogen yang bermasalah yang diuji (dirangkum dalam Tabel Tabel11). Yang menarik adalah bahwa isolat klinis dengan beberapa  multiple drug resistance (MDR) tidak mengurangi kepekaannya terhadap madu, menunjukkan spektrum tindakan yang luas yang tidak berbeda dengan antimikroba yang diketahui (Willix et al., 1992; Blair dan Carter, 2005; George and Cutting, 2007; Tan et al., 2009). Selain itu, upaya untuk menghasilkan strain bakteri tahan madu di laboratorium belum berhasil dan tidak ada laporan isolat klinis dengan resistensi yang didapat terhadap madu (Blair et al., 2009; Cooper et al., 2010).

Tabel 1 

Spesies bakteri yang ditemukan rentan terhadap madu manuka terapeutik.

Spesies Bakteri1 No. isolates2 Jenis Madu3 MIC (%v/v)4 Referensi
Acinetobacter baumannii 11 (C) Medihoney® (AUST) 6–8S George and Cutting, 2007
  1 (C) Medical manuka 1 6S Carnwath et al., 2014
  1 (C) Medical manuka 2 10S  
  1 (C) Manuka 20+ (UB) 4S  
  1 (C) Manuka 10+ (UB) 12S  
Acinetobacter calcoaceticus 4 Medihoney® (AUST) 8.1S Blair et al., 2009
Actinomyces pyogenes 1 (C) Manuka (1) 5S Allen and Molan, 1997
Alcaligenes faecalis 1 (C) Manuka 10+ (CNZ) 25 Mundo et al., 2004
Bacillus cereus 1 (C) Manuka 10+ (CNZ) 25  
Bacillus stearothermophilus 1 (C) Manuka 10+ (CNZ) 50  
Bacillus subtilis 1 Manuka 10+ (CNZ) 10 Balan et al., 2016
Burkholderia ambifaria 4 (C) Woundcare 18+ (CUK/NZ) 4.5 Jenkins et al., 2015b
Burkholderia anthina 4 (C) Woundcare 18+ (CUK/NZ) 4.25  
Burkholderia cenocepacia 15 (C) Woundcare 18+ (CUK/NZ) 4.5  
Burkholderia cepacia 20 (C) Manuka (2) 2–5S Cooper et al., 2000
  6 (C) Woundcare 18+ (CUK/NZ) 5.2 Jenkins et al., 2015b
Burkholderia cepacia complex 4 (C) Woundcare 18+ (CUK/NZ) 4  
Burkholderia cepacia group K 3 (C) Woundcare 18+ (CUK/NZ) 4.3  
Burkholderia multivorans 10 (C) Woundcare 18+ (CUK/NZ) 4.6  
Burkholderia pyrrocinia 2 (C) Woundcare 18+ (CUK/NZ) 5  
Burkholderia stabilis 1 (C) Woundcare 18+ (CUK/NZ) 5  
Burkholderia vietnamensis 5 (C) Woundcare 18+ (CUK/NZ) 4.8  
Citrobacter freundii 2 Medihoney® (AUST) 9.1S Blair et al., 2009
Clostridium difficile 3 (2C) Woundcare 18+ (CNZ) 6.25 Hammond and Donkor, 2013
Enterobacter aerogenes 1 Medihoney® (AUST) 13.8S Blair et al., 2009
  1 (C) Manuka 16+ (SG) 11.9S Lin et al., 2011
Enterobacter agglomerans 1 Medihoney® (AUST) 7S Blair et al., 2009
Enterobacter clocae 6 (C) Medihoney® (AUST) 6 George and Cutting, 2007
  18 Medihoney® (AUST) 11.8S Blair et al., 2009
  1 (C) Manuka 16+ (SG) 10.65S Lin et al., 2011
ESBL producing Enterobacter clocae 1 Manuka 16+ (SG) 5.9S  
ESBL producing Enterobacter sp. 1 Manuka 16+ (SG) 5.9S  
Enterococcus faecalis 3 (C) Medihoney® (AUST) 6–8 George and Cutting, 2007
  1 (C) Medical manuka 1 8S Carnwath et al., 2014
  1 (C) Medical manuka 2 12S  
  1 (C) Manuka 20+ (UB) 6S  
  1 (C) Manuka 10+ (UB) 10S  
Enterococcus sp. 7 (C) Manuka (3) 4.7–5S Cooper et al., 2002b
  3 (C) Medihoney® (AUST) 6 George and Cutting, 2007
VRE 20 Manuka (3) 3.8–5S Cooper et al., 2002b
  20 (C) Medihoney® (AUST) 6–8 George and Cutting, 2007
Escherichia coli 10 (C) Medihoney® (AUST) 6–8  
  1 Medical manuka 3 5S Wilkinson and Cavanagh, 2005
  1 Medihoney 2.5S  
  1 Manuka 10+ (CNZ) 20 Balan et al., 2016
  9 Medihoney® (AUST) 7.5S Blair et al., 2009
  1 (C) Medical manuka 1 6S Carnwath et al., 2014
  1 (C) Medical manuka 2 10S  
  1 (C) Manuka 20+ (UB) 4S  
  1 (C) Manuka 10+ (UB) 8S  
  1 Manuka 16+ (SG) 6.9S Lin et al., 2011
  1 Manuka 25+ (CNZ) 12.5S Sherlock et al., 2010
  1 (C) Woundcare 18+ (CUK/NZ) 12.0 Cooper et al., 2010
ESBL producing Escherichia coli 3 Manuka 16+ (SG) 4.7–5.5S Lin et al., 2011
Escherichia coli 0157:H7 1 (C) Manuka 10+ (CNZ) 50 Mundo et al., 2004
  1 Manuka 10+ (CNZ) 10 Balan et al., 2016
Helicobacter pylori 28 (C) Manuka (AHNZ) 10S Osato et al., 1999
  7 (C) Manuka (2) 5S Al Somal et al., 1994
Klebsiella pneumonia 1 (C) Manuka (1) 10S Allen and Molan, 1997
  12 (C) Medihoney® (AUST) 6–8 George and Cutting, 2007
  7 Medihoney® (AUST) 13S Blair et al., 2009
Listeria monocytogenes 1 Manuka 10+ (CNZ) 20 Balan et al., 2016
Morganella morganii 1 Medihoney® (AUST) 7.8S Blair et al., 2009
Nocardia asteroides 1 (C) Manuka (1) 5S Allen and Molan, 1997
Proteus mirabilis 1 Manuka (1) 10.8 Willix et al., 1992
Proteus vulgaris 1 Manuka 10+ (CNZ) 20 Balan et al., 2016
Pseudomonas spp. 20 (C) Manuka (2) 5.5–8.7 Cooper and Molan, 1999
Pseudomonas aeruginosa 17 (C) Manuka (3) 4–9S Cooper et al., 2002a
  1 Manuka (1) 15.7 Willix et al., 1992
  20 (C) Medihoney® (AUST) 12–14 George and Cutting, 2007
  1 Medical manuka 3; Medihoney 2.5S Wilkinson and Cavanagh, 2005
  112 (C) Manuka (AUST UB) 20 Mullai and Menon, 2007
  1 Manuka (AUST UB) 10  
  40 (E) Manuka (AUST UB) 20  
  56 (C) Woundcare 18+ (CUK/NZ) 7.3 Jenkins et al., 2015b
  1 (C) Manuka MGO550 12.5 Anthimidou and Mossialos, 2012
  1 (C) Medical manuka 1 8S Carnwath et al., 2014
  1 (C) Medical manuka 2 10S  
  1 (C) Manuka 20+ (UB) 8S  
  1 (C) Manuka 10+ (UB) 10S  
  3 (2C) Medihoney® (CNZ) 10–30% Kronda et al., 2013
  1 Woundcare 18+ (CUK/NZ) 6 Jenkins and Cooper, 2012
  1 Medical manuka 4 12 Roberts et al., 2012
  2 (1C) Medihoney® (CNZ) 10–30 Maddocks et al., 2013
  1 Manuka (3) 9.5S Henriques et al., 2011
  1 Manuka 25+ (CNZ) 12.5S Sherlock et al., 2010
  1 Woundcare 18+ (CUK/NZ) 15.7 Cooper et al., 2010
Salmonella enteritidis 1 Manuka 10+ (CNZ) 20 Balan et al., 2016
  1 Manuka 16+ (SG) 6.8S Lin et al., 2011
Salmonella mississippi 1 Manuka 16+ (SG) 6.8S  
Salmonella typhimurium 1 (C) Manuka 10+ (CNZ) 50 Mundo et al., 2004
  1 Manuka 10+ (CNZ) 20 Balan et al., 2016
  2 Manuka 16+ (SG) 6.8–7.5S Lin et al., 2011
Serratia marcescens 1 Manuka (1) 9.4 Willix et al., 1992
  1 Medihoney® (AUST) 14.8S Blair et al., 2009
Shigella flexneri 1 (C) Manuka 16+ (SG) 7.58S Lin et al., 2011
Shigella sonnei 1 Manuka 10+ (CNZ) 10 Balan et al., 2016
  1 (C) Manuka 16+ (SG) 6.6 S Lin et al., 2011
Staphylococcus aureus 1 (C) Manuka (1) 5S Allen and Molan, 1997
  1 Manuka (1) 2.7 Willix et al., 1992
  2 Medihoney® (AUST) 4.4S Blair et al., 2009
  48 (C) Medihoney® (AUST) 4 George and Cutting, 2007
  1 Manuka 10+ (CNZ) 5 Balan et al., 2016
  1 (C) Manuka MGO550 6.25 Anthimidou and Mossialos, 2012
  4 (2C) Manuka (5CNZ) 8 Lu et al., 2013
  1 (C) Medical manuka 1 6S Carnwath et al., 2014
  1 (C) Medical manuka 2 10S  
  1 (C) Manuka 20+ (UB) 2S  
  1 (C) Manuka 10+ (UB) 10S  
  1 Medihoney® (CNZ) 8 Maddocks et al., 2013
  2 (C) Medihoney® (CNZ) 6–10  
  2 Manuka (3) 1.2–3.4 Henriques et al., 2010
  1 Woundcare 18+ (CUK/NZ) 3 Cooper et al., 2010
  58 (C) Manuka (2) 2–3 Cooper et al., 1999
Staphylococcus aureus resistant to antibiotics other than methicillin 5 (C) Medihoney® (AUST) 4.1S Blair et al., 2009
MRSA 18 (C) Manuka (3) 2.7–3S Cooper et al., 2002b
  13 (C) Medihoney® (AUST) 4.2S Blair et al., 2009
  1 (C) Medical manuka 1 4S Carnwath et al., 2014
  1 (C) Medical manuka 2 10S  
  1 (C) Manuka 20+ (UB) 3S  
  1 (C) Manuka 10+ (UB) 10S  
  1 Medihoney® (CNZ); Manuka (CNZ) 8 Müller et al., 2013
  4 (C) Manuka 25+ (CNZ) 12.5S Sherlock et al., 2010
  1 Manuka 25+ (CNZ) 12.5S  
Epidemic MRSA 1 Woundcare 18+ (CUK/NZ) 6 Jenkins and Cooper, 2012
  1 Medihoney® (CNZ) 20 Maddocks et al., 2013
Staphylococcus (coagulase negative) 18 (C) Manuka (4) 2.7–5S French et al., 2005
Staphylococcus epidermidis 1 (C) Woundcare 18+ (CUK/NZ) 7 Cooper et al., 2010
MRSE 1 (C) Medical manuka 1 4S Carnwath et al., 2014
  1 (C) Medical manuka 2 10S  
  1 (C) Manuka 20+ (UB) 4S  
  1 (C) Manuka 10+ (UB) 6S  
Staphylococcus equi subsp. equi 1 (C) Medical manuka 1 6S  
  1 (C) Medical manuka 2 10S  
  1 (C) Manuka 20+ (UB) 4S  
  1 (C) Manuka 10+ (UB) 8S  
Staphylococcus equi subsp. zooepidemicus 1 (C) Medical manuka 1 6S  
  1 (C) Medical manuka 2 4S  
  1 (C) Manuka 20+ (UB) 10S  
  1 (C) Manuka 10+ (UB) 4S  
Staphylococcus sciuri 1 (C) Medical manuka 1 4%S  
  1 (C) Medical manuka 2 10S  
  1 (C) Manuka 20+ (UB) 4S  
  1 (C) Manuka 10+ (UB) 6S  
Stenotrophomonas maltophilia 20 (C) Manuka 15+ (NN) 7.5–22.5S Majtan et al., 2011
Streptococcus agalactiae 1 (C) Manuka (1) 5S Allen and Molan, 1997
Streptococcus dysgalactiae 1 (C) Manuka (1) 5S  
Streptococcus pyogenes 1 Medihoney® (CNZ) 20 Maddocks et al., 2012
  2 (1C) Medihoney® (CNZ) 20  
Streptococcus uberis 1 (C) Manuka (1) 5S Allen and Molan, 1997
Yersinia enterocolitica 1 Manuka 16+ (SG) 4.8S Lin et al., 2011

 

 Selain menghambat sel plankton, madu bisa menyebar dan membunuh bakteri yang hidup dalam biofilm. Biofilm adalah komunitas sel yang umumnya tertutup dalam matriks ekstraselular yang diproduksi sendiri dan ditemukan menempel pada permukaan, termasuk luka, gigi, permukaan mukosa, dan perangkat implan. Mikroba yang tinggal di biofilm terlindung dari agen antimikroba dan dapat menyebabkan infeksi persisten dan tidak tuntas. Madu Manuka mengganggu agregat seluler (Maddocks et al., 2012; Roberts et al., 2012) dan mencegah pembentukan biofilm oleh berbagai patogen merugikan, termasuk spesies Streptococcus dan Staphylococcus, Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Proteus mirabilis, Enterobacter cloacae, Acinetobacter baumannii, dan Klebsiella pneumonia (Maddocks et al., 2012, 2013; Lu et al., 2014; Majtan et al., 2014a; Halstead et al., 2016) Yang penting, madu juga dapat mengganggu biofilm dan membunuh sel yang ada didalamnya, meskipun konsentrasi yang lebih tinggi diperlukan daripada sel planktonik (Okhiria et al., 2009; Maddocks et al., 2013; Lu et al., 2014; Majtan et al., 2014a). Baru-baru ini, madu manuka diuji pada biofilm multispesies yang mengandung Staphylococcus aureus, Streptococcus agalactiae, Pseudomonas aeruginosa, dan Enterococcus faecalis dan ditemukan mengurangi viabilitas semua spesies kecuali E. faecalis, yang tidak dapat diberantas (Sojka et al., 2016 ). Hal ini memiliki implikasi klinis yang jelas untuk menggunakan madu pada luka yang mengandung biofilm, dan memahami bagaimana biofilm memungkinkan E. faecalis untuk bertahan saat biasanya bakteri ini dibasmi oleh madu merupakan bidang studi yang penting dan menarik di percobaan di masa mendatang. MGO tampaknya sebagian besar tapi tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas penghambatan biofilm oleh madu manuka, sekali lagi menggaris bawahi pentingnya komponen tambahan yang memodulasi aktivitas madu (Kilty et al., 2011; Lu et al., 2014).

Spektrum aktivitas madu terhadap patogen non-bakteri belum secara pasti diketahui. Penelitian terbaru yang meneliti efek antivirus madu manuka telah menghasilkan bahwa madu berpotensi untuk pengobatan virus varicella-zoster (penyebab cacar air dan herpes zoster) (Shahzad and Cohrs, 2012) dan influenza (Watanabe et al., 2014). Patogen jamur pada kulit, termasuk spesies Candida albicans dan dermatophy secara substansial kurang rentan terhadap madu manuka dibandingkan bakteri, namun mampu dihambat oleh madu dengan produksi hidrogen peroksida tingkat tinggi (Brady et al., 1996; Irish et al., 2006). Madu manuka dan madu non-manuka telah diketahui untuk mengurangi viabilitas spora miema apha microsporidian, patogen penting lebah, namun madu tidak dapat menyembuhkan infeksi lebah begitu lebah sudah terinfeksi (Malone et al., 2001). Ada sedikit sekali penelitian tentang penggunaan madu untuk parasit protozoa atau cacing dan penelitian ini tidak menggunakan jenis madu dengan aktivitas yang dikenal dengan baik, sehingga sulit untuk menilai signifikansi temuan mereka (Bassam et al., 1997; Nilforoushzadeh et al. , 2007; Sajid dan Azim, 2012).

Menempatkan Madu Ke Pengobatan Mainstream: Studi Eksperimental dan Mekanis Terbaru Mengungkap Bagaimana Cara Kerja Madu

Madu manuka aktif banyak tersedia sebagai agen terapeutik dan makanan fungsional, dan sebagian besar konsumen menganggapnya sebagai produk holistik dan agak misterius. Namun, kurangnya pemahaman tentang bagaimana madu membunuh bakteri dan mendorong penyembuhan, membatasi diakui madu ini oleh pengobatan mainstream dan masih dianggap "alternatif" atau "pelengkap". Sebagian besar penelitian tentang madu sampai saat ini telah deskriptif, namun, penelitian terbaru mencoba untuk mengungkap bagaimana madu bekerja dan menggunakan pendekatan mekanistik untuk menentukan bagaimana cara kerjanya pada tingkat seluler dan molekuler.

Studi Ultrastruktur Sel Bakteri dan Komunitas yang Diobati dengan Madu

Madu dapat mengubah ukuran dan bentuk sel bakteri, walaupun cakupan akan hal ini bervariasi pada berbagai spesies bakteri.  Dengan menggunakan mikroskop elektron transmisi (TEM), kultur bakteri S. aureus yang diberi madu manuka memiliki lebih banyak sel dengan septa yang lengkap dibandingkan dengan kultur yang diberi madu buatan, menunjukkan sel masuk namun gagal menyelesaikan tahap pembelahan siklus sel, walaupun secara eksternal sel ini terlihat normal dengan pemindaian mikroskop elektron (SEM) (Henriques et al., 2010). Baru-baru ini, pencitraan kontras fase setelah perlakuan madu manuka dengan dosis setengah mematikan, ditemukan bahwa sel S. aureus dan Bacillus subtilis secara signifikan berukuran lebih kecil dan lebih cenderung memiliki DNA terkondensi dibanding dengan sel yang tumbuh tanpa perlakuan madu (Lu et al., 2013 ). Sulit untuk membandingkan studi-studi ini secara langsung karena mereka menggunakan jumlah madu dan waktu perlakuan yang berbeda-beda, namun secara keseluruhan hasilnya menunjukkan adanya penghambatan terhadap pertumbuhan dan pembelahan sel, yang sering terlihat sebagai respons terhadap  nutrisi dan tekanan  lingkungan (Silva-Rocha dan de Lorenzo , 2010).

Perlakuan madu telah dilaporkan menyebabkan kultur spesies Gram negatif E. coli dan P. aeruginosa memiliki sel yang tidak normal dan lebih lama (Lu et al., 2013). Menariknya, sementara P. aeruginosa nampaknya kurang rentan terhadap penghambatan oleh madu dibanding spesies lainnya, perubahan seluler yang mendalam terlihat dengan menggunakan TEM dan SEM, termasuk alur dan bleb (tonjolan membran plasma seluler) pada permukaan sel, dan sejumlah besar puing ekstraselular  menunjukkan lisis sel (Henriques et al., 2011). Hal ini diverifikasi dalam penelitian selanjutnya dengan menggunakan BacLight live-dead fluorescence staining (pendeteksi kehidupan sel) dan confocal microscopy, meskipun ini juga menunjukkan bahwa jumlah sel yang tetap hidup masih relatif besar. Studi ini menggunakan madu 20% (w / v), yang mana mempunyai level yang lebih tinggi sehingga MBC untuk strain P. aeruginosa  dan penghambatan sel dan kematian sel secara substansial akan terjadi. Namun,  atomic force microscopy (AFM) dengan menggunakan tingkat sub-bakterisida masih menemukan distorsi sel yang substansial dan blebbing pada sel yang mendapat perlakuan dengan konsentrasi MIC (12%) dan setengah MIC (6%), bersamaan dengan lisis sel yang substansial (Roberts et al., 2012 ). Degenerasi sel P. aeruginosa yang nyata ini didukung oleh analisis PCR kuantitatif yang menunjukkan penurunan regulasi sebesar 10 kali lipat pada sel oprF yang mendapat perlakuan dengan madu, yang mengkodekan porin luar membran yang penting untuk stabilitas struktural (Jenkins et al. , 2015a).

'Analisis Omik Menilai Respon Sel Utuh terhadap Penghambatan oleh Madu

Kemampuan untuk menilai seluruh keluaran sel telah merevolusi studi tentang interaksi obat-patogen dan memiliki nilai khusus untuk produk alami yang kompleks seperti madu dimana banyak efek pada banyak proses mungkin terjadi. Mikroarray dan studi proteomik bakteri yang terpapar madu menunjukkan induksi proses yang terkait stres dan penekanan sintesis protein (Blair et al., 2009; Jenkins et al., 2011; Packer et al., 2012). Meskipun hal ini  secara umum cukup khas sebagai respon terhadap agen penghambat, madu menghasilkan "tanda" unik dari ekspresi diferensial yang mencakup banyak protein dengan fungsi hipotetis atau fungsi yang tidak diketahui, yang menunjukkan cara kerja baru. Gen atau protein spesifik yang diketahui diturunkan regulasinya pada analisis 'omic dari bakteri jenis S. aureus dan E. coli O157 / H7 memiliki fungsi yang berkaitan dengan virulensi, penginderaan kuorum dan pembentukan biofilm (Lee et al., 2011; Jenkins et al., 2013). ), dan pada bakteri P. aeruginosa terjadi penurunan regulasi protein yang terlibat dalam pelepasan (Roberts et al., 2015). Fenotipe- Fenotipe ini sangat penting bagi patogen untuk membangun dan menghasilkan infeksi yang invasif dan menunjukkan bahwa selain mampu menghambat pertumbuhan, madu dapat mengurangi potensi patogen untuk menginfeksi bakteri.

 Meski masih relatif terbatas jumlahnya dan ruang lingkupnya, 'analisis omics yang dilakukan sampai saat ini menunjukkan respons seluler yang kompleks terhadap madu dengan variasi yang siginifikan pada spesies bakteri yang berbeda. Pendekatan sistem biologi  tingkat lanjut memungkinkan kontekstualisasi data, dan studi validasi menggunakan PCR kuantitatif dan strain penghapusan gen, saat ini disyaratkan untuk mengungkap kompleksitas ini, dan hail ini mungkin bisa mengungkap pendekatan baru untuk terapi obat yang ditujukan khusus untuk menghambat pertumbuhan bakteri (Hudson et al., 2012).

Interaksi Antara Madu dan Antibiotik Konvensional

Selain digunakan sebagai agen tunggal, ada ruang lingkup dimana  madu digunakan sebagai  pengobatan tambahan antibiotik konvensional. Hal ini mungkin memiliki nilai tertentu bila dikombinasikan dengan agen sistemik yang dapat dikirim pada sumber luka melalui sirkulasi darah sementara madu dioleskan secara topikal. Pengobatan gabungan juga dapat menurunkan dosis terapeutik agen antimikroba dan mencegah munculnya resistensi, dan dalam beberapa kasus dapat memunculkan sinergi obat, di mana aktivitas obat gabungan lebih besar daripada jumlah aktivitas sendiri-sendiri masing-masing obat yang dipasangkan.

Studi in vitro yang menggabungkan madu manuka secara terapeutik dengan agen antibiotik telah menghasilkan efek sinergis dengan obat-obatan seperti oxacillin, tetrasiklin, imipenem dan mupirocin melawan pertumbuhan strain MRSA (Jenkins and Cooper, 2012). Selanjutnya, adanya konsentrasi sub-penghambatan madu ketika dikombinasikan dengan oksasilin mengembalikan strain MRSA pada kerentanan terhadap oxacillin. Para penulis menemukan penurunan regulasi  mecR1, yang mengkodekan protein pengikat penisilin spesifik MRSA (PBP2A) dan menyimpulkan ini sebagai mekanisme sinergi madu. Aktivitas sinergis yang kuat antara madu manuka dan rifampisin terhadap strain S. aureus multipel, termasuk isolat klinis dan strain MRSA, juga ditemukan, dan kehadiran madu mencegah munculnya resistensi rifampisin secara in vitro (Müller et al., 2013). Ini sangat signifikan secara klinis karena rifampisin mempenetrasi dengan baik ke dalam jaringan dan abses dan biasanya digunakan untuk mengobati infeksi stafilokokus superfisial, namun dengan cepat mendorong timbulnya resistensi dan karenanya harus digunakan dengan cara  dikombinasikan dengan agen lain. Temuan tambahan dari penelitian ini adalah bahwa sinergi bukan karena MGO, karena madu sintetis yang dibubuhi MGO tidak bersinergi dengan rifampisin.

Memahami bagaimana madu mempengaruhi tindakan antimikroba dengan mode tindakan yang telah diketahui juga dapat meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana madu mempengaruhi bakteri patogen . Liu dkk. (2014) memperluas analisis sinergi untuk memasukkan antibiotik tambahan dan strain S. aureus dan MRSA yang berbeda. Mereka menyimpulkan bahwa peningkatan kerentanan terhadap klindamisin dan gentamisin mungkin diakibatkan oleh  efek gabungan penurunan regulasi sintesis protein oleh madu dengan penghambatan ribosom oleh antibiotik, sementara sinergi dengan antibiotik β-laktam dapat disebabkan oleh meningkatnya stres oksidatif yang disebabkan oleh kedua pasangan.  Karena strain S. aureus dan MRSA sama-sama rentan terhadap kombinasi oxacillin dan madu, tampaknya sinergi tidak mungkin disebabkan oleh penurunan regulasi PBP2A. Dalam satu isolat MRSA klinis, bagaimanapun, tidak ada peningkatan sensitivitas terhadap klindamisin atau gentamisin saat madu ada, yang mana penting dicatat karena ini adalah kasus pertama yang dilaporkan mengenai perbedaan respon MRSA dan S. aureus terhadap madu. Investigasi perbedaan spesifik strain ini dengan menggunakan analisis transkriptomik atau proteomik akan menjadi metode yang menarik untuk penelitian masa depan (Liu et al., 2014).

Bukti Khasiat Dari Studi Hewan, Laporan Kasus, dan Uji Coba Klinis

Perusahaan yang memproduksi dan memasarkan madu manuka mempromosikan dengan standar etika tinggi dan mencegah penggunaan model hewan untuk mempelajari infeksi dan penyembuhan luka. Namun, madu Manuka telah digunakan untuk mengobati hewan dengan luka bedah atau kecelakaan, terutama kuda, dengan hasil yang positif (Dart et al., 2015; Bischofberger et al., 2016). Laporan kasus menggunakan madu untuk mengobati luka yang tidak sembuh dan borok telah tercatat penyembuhan yang signifikan dengan resolusi infeksi dimana antibiotik konvensional telah gagal mencapainya (Regulski, 2008; Smith et al., 2009). Namun, terlepas dari ini dan bukti dari sejumlah model in vitro dan in vivo dimana madu terbukti mampu membunuh patogen luka merugikan, ada kekurangan data klinis yang kuat untuk madu manuka. Ada berbagai alasan untuk hal ini, termasuk kesulitan teknis dalam melakukan percobaan double-blind placebo-controlled pada zat yang khas seperti madu, pertimbangan etis, kurangnya minat praktisi klinis dan pertimbangan biaya dibandingkan manfaat yang diperoleh bagi perusahaan penghasil madu, yang fokusnya pada produk alami dan penjualan over-the-counter dimana madu manuka dan produk terkait sudah dibandrol dengan harga premium. Hal ini dapat berubah karena resistensi antibiotik mengikis opsi pengobatan saat ini dan penelitian berkelanjutan yang menyoroti potensi madu menarik perhatian praktisi medis.

Kesenjangan dan Peluang Yang Muncul dalam Studi Madu

Kemajuan besar telah dicapai baru-baru ini dalam pemahaman kita tentang madu terapeutik, namun penggunaannya dalam pengobatan klinis tetap terbatas, bahkan ketika antibiotik konvensional mulai gagal. Kompleksitas madu, yang bisa dibilang merupakan kekuatan terbesarnya dalam membunuh patogen yang beragam dan mencegah resistensi, memperumit studinya karena banyak faktor yang bekerja sama cenderung mempengaruhi pola aktivitasnya. Kami menganjurkan studi mekanistik lebih lanjut dengan menggunakan madu manuka terapeutik yang terstandarisasi dengan tepat, khususnya studi yang menggunakan pendekatan biologi sistem non-reduksionis, bersama dengan analisis kimia dan mikrobiologi yang terperinci untuk menjelaskan bagaimana madu bertindak pada tingkat molekuler, seluler dan populasi, bagaimana hal ini dapat berbeda dalam strain dan spesies patogen mikroba yang berbeda, dan bagaimana sel inang merespons (Tabel Table22). Informasi yang diperoleh dari penelitian ini kemudian dapat memberi tahu terapi dan menghasilkan data klinis yang diperlukan untuk membawa madu menjadi obat utama; tidak lagi terapi alternatif yang digunakan hanya jika semua pengobatan yang lain telah gagal.

 

Table 2

Studi tentang madu manuka: temuan, kesenjangan, dan studi masa depan.

Kajian Temuan sampai saat ini Kesenjangan dan kontroversi Studi yang disarankan di masa depan
Analisis kimia MGO bertanggung jawab untuk sebagian besar tapi tidak keseluruhan terhadap aktivitas antibakteri dan anti-biofilm pada madu manuka; hidrogen peroksida bertanggung jawab untuk sebagian besar tapi tidak keseluruhan aktivitas pada madu non-manuka; leptosin dapat memodulasi aktivitas; fenolat dapat bertindak sebagai antioksidan dan meningkatkan tingkat penyembuhan luka. Konstituen yang memodulasi aktivitas, menghasilkan sinergi antara madu dan antibiotik dan mendukung penyembuhan luka tidak diketahui. Fraksinasi, pemurnian, dan pengujian konstituen secara sendiri dan dalam berbagai kombinasi.
Penghambatan patogen Madu Manuka menghambat pertumbuhan semua patogen bakteri yang diuji, mencegah biofilm dan dapat membuyarkan dan memberantas biofilm sebelum terbentuk. Hanya beberapa penelitian tentang patogen non-bakteri dan biofilm spesies campuran. Uji madu pada jamur patogen, parasit, dan virus; Analisis biofilm yang dihasilkan oleh persekutuan antara bakteri dan ragi.
‘Omics dan sistem biologi Pengobatan dengan madu manuka menghasilkan tanda unik ekspresi gen diferensial dengan penurunan regulasi respons stres dan gen terkait virulensi. Analisis terbatas pada  pada ekspresi diferensial; hanya satu titik waktu yang dieksplorasi; hanya dilakukan pada E. coli dan S. aureus; sangat sedikit validasi. Kontekstualisasi menggunakan alat biologi sistem mutakhir; menilai dinamika respon sel; memvalidasi menggunakan PCR kuantitatif dan strain penghilangan gen /  overekspresi.
Ultrastruktur Perubahan morfologis yang sangat berbeda pada spesies bakteri yang berbeda; menunjukkan S. aureus gagal menyelesaikan siklus sel; P. aeruginosa memiliki degenerasi dan lisis sel yang luas. Hanya beberapa spesies / strain dianalisis sampai saat ini. Perluas ke strain dan spesies tambahan termasuk biofilm spesies campuran dan biopsi luka.
 Interaksi obat Manuka madu bersifat sinergis dan  atau meningkatkan aktivitas berbagai antibiotik, mencegah pengembangan resistensi dan membuat strain resisten menjadi rentan; MGO tidak bertanggung jawab atas sinergi. Hanya S. aureus dan MRSA yang diuji sampai saat ini dan perbedaan substansial terjadi di antara strain; zat-zat yang menyebabkan sinergi tidak diketahui. Perluas ke strain dan spesies tambahan; uji fraksi madu untuk menentukan senyawa spesifik yang bertanggung jawab untuk bersinergi; Tentukan perbedaan strain spesifik dalam merespon dengan menggunakan pendekatan 'omics'.
Penggunaan in vivo dan uji klinis Studi kasus dan penggunaan madu manuka terapeutik pada hewan yang terluka menunjukkan madu dapat membersihkan infeksi dan meningkatkan penyembuhan luka. Uji coba klinis yang kuat belum dilakukan. Gunakan data yang diperoleh dari atas untuk menginformasikan pengobatan dan merancang uji klinis.

 


Kontribusi Penulis
Kajian ini ditulis oleh DC, SB, NNC, DB, dan PB dan diperiksa secara kritis oleh RS dan EH.
 
Pernyataan Konflik Kepentingan
DC, PB, dan EH memberikan hibah dan dukungan non-finansial berupa madu manuka dari Comvita NZ Limited dan Capilano Honey Limited; RS dipekerjakan oleh Comvita NZ Limited, yang melakukan perdagangan madu manuka kelas medis (Medihoney). Penulis yang lain menyatakan bahwa penelitian dilakukan tanpa adanya hubungan komersial atau finansial yang dapat dianggap sebagai potensi konflik kepentingan.
 
Singkatan
ESBL   extended spectrum β-lactamase (spektrum diperpanjang β-laktamase)
MBC    minimum bactericidal concentration (konsentrasi bakterisida minimal)
MGO   methyl glyoxal
MIC     minimum inhibitory concentration (konsentrasi hambat minimum)
MRSA  methicillin-resistant Staphylococcus aureus
MRSE  methicillin-resistant Staphylococcus epidermis
NPA    non-peroxide activity
VRE    vancomycin-resistant Enterococcus
 
Catatan kaki
Pendanaan. NNC menerima dukungan gaji dari Industri Riset dan Pengembangan Pedesaan - Program Bee Madu (Grant PRJ-009186).
 
Informasi Artikel
Front Microbiol. 2016; 7: 569.
Diterbitkan online 2016 Apr 20. doi:  10.3389/fmicb.2016.00569
PMCID: PMC4837971
1. School of Life and Environmental Sciences, University of Sydney, Sydney, NSW, Australia
2. The ithree institute, University of Technology Sydney, Sydney, NSW, Australia
3. University of the Sunshine Coast, Maroochydore, QLD, Australia
4. Comvita NZ Limited, Te Puke, New Zealand
Diedit oleh: Luis Cláudio Nascimento da Silva, Pusat Universitas Maranhão, Brasil
Diulas oleh: Osmar Nascimento Silva, Dom Bosco Catholic University, Brazil; Juraj Majtan, Akademi Ilmu Pengetahuan Slovakia, Slowakia
* Korespondensi: Dee A. Carter, Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Artikel ini disampaikan ke Antimikroba, Perlawanan dan Kemoterapi, bagian jurnal Frontiers in Microbiology
Diterima 2016 Feb 25; Diterima 2016 5 Apr.
Hak Cipta © 2016 Carter, Blair, Cokcetin, Bouzo, Brooks, Schothauer dan Harry.
Ini adalah artikel akses terbuka yang didistribusikan berdasarkan ketentuan Creative Commons Attribution License (CC BY). Penggunaan, distribusi atau reproduksi di forum lain diperbolehkan, asalkan penulis asli atau pemberi lisensi dikreditkan dan bahwa publikasi asli dalam jurnal ini dikutip, sesuai dengan praktik akademis yang diterima. Penggunaan, distribusi atau reproduksi diizinkan jika dengan sesuai dengan persyaratan ini.
Artikel ini telah dikutip oleh artikel lain di PMC.
Artikel dari Frontiers in Microbiology disediakan di sini milik Frontiers Media SA
 
 
Referensi

  1. Adams C. J., Boult C. H., Deadman B. J., Farr J. M., Grainger M. N. C., Manley-Harris M., et al. (2008). Isolation by HPLC and characterisation of the bioactive fraction of New Zealand manuka (Leptospermum scoparium) honey. Carbohydr. Res. 343 651–659. 10.1016/j.carres.2007.12.011 [PubMed] [Cross Ref]
  2. Adams C. J., Manley-Harris M., Molan P. C. (2009). The origin of methylglyoxal in New Zealand manuka (Leptospermum scoparium) honey. Carbohydr. Res. 344 1050–1053. 10.1016/j.carres.2009.03.020 [PubMed] [Cross Ref]
  3. Al Somal N., Coley K. E., Molan P. C., Hancock B. M. (1994). Susceptibility of Helicobacter pylori to the antibacterial activity of manuka honey. J. R. Soc. Med. 87 9–12. [PMC free article] [PubMed]
  4. Allen K., Molan P., Reid G. (1991). A survey of the antibacterial activity of some New Zealand honeys. J. Pharm. Pharmacol. 43 817–822. 10.1111/j.2042-7158.1991.tb03186.x [PubMed] [Cross Ref]
  5. Allen K. L., Molan P. C. (1997). The sensitivity of mastitis-causing bacteria to the antibacterial activity of honey. N. Z. J. Agric. Res. 40 537–540. 10.1080/00288233.1997.9513276 [Cross Ref]
  6. Anthimidou E., Mossialos D. (2012). Antibacterial activity of Greek and Cypriot honeys against Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeruginosa in comparison to manuka honey. J. Med. Food 16 42–47. 10.1089/jmf.2012.0042 [PubMed] [Cross Ref]
  7. Balan P., Mal G., Das S., Singh H. (2016). Synergistic and additive antimicrobial activities of curcumin, manuka honey and whey proteins. J. Food Biochem. 10.1111/jfbc.12249 [Cross Ref]
  8. Bassam Z., Zohra B. I., Saada A.-A. (1997). The effects of honey on Leishmania parasites: an in vitro study. Trop. Doctor 27 36–38. [PubMed]
  9. Biglari B., Moghaddam A., Santos K., Blaser G., Büchler A., Jansen G., et al. (2013). Multicentre prospective observational study on professional wound care using honey (Medihoney). Int. Wound J. 10 252–259. 10.1111/j.1742-481X.2012.00970.x [PubMed] [Cross Ref]
  10. Bischofberger A., Dart C., Horadagoda N., Perkins N., Jeffcott L., Little C., et al. (2016). Effect of Manuka honey gel on the transforming growth factor β1 and β3 concentrations, bacterial counts and histomorphology of contaminated full-thickness skin wounds in equine distal limbs. Aust. Vet. J. 94 27–34. 10.1111/avj.12405 [PubMed] [Cross Ref]
  11. Blair S., Cokcetin N., Harry E., Carter D. (2009). The unusual antibacterial activity of medical-grade Leptospermum honey: antibacterial spectrum, resistance and transcriptome analysis. Eur. J. Clin. Microbiol. Infect. Dis. 28 1199–1208. 10.1007/s10096-009-0763-z [PubMed] [Cross Ref]
  12. Blair S. E., Carter D. A. (2005). The potential for honey in the management of wounds and infections. J. Austral. Infect. Control 10 24–31.
  13. Brady N., Molan P., Harfoot C. (1996). The sensitivity of dermatophytes to the antimicrobial activity of manuka honey and other honey. Pharm. Pharmacol. Commun. 2 471–473.
  14. Carnwath R., Graham E. M., Reynolds K., Pollock P. J. (2014). The antimicrobial activity of honey against common equine wound bacterial isolates. Vet. J. 199 110–114. 10.1016/j.tvjl.2013.07.003 [PubMed] [Cross Ref]
  15. Chen C., Campbell L., Blair S. E., Carter D. A. (2012). The effect of heat treatment on the antimicrobial properties of honey. Front. Microbiol. 3:265 10.3389/fmicb.2012.00265 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  16. Cooper R., Jenkins L., Henriques A., Duggan R., Burton N. (2010). Absence of bacterial resistance to medical-grade manuka honey. Eur. J. Clin. Microbiol. Infect. Dis. 29 1237–1241. 10.1007/s10096-010-0992-1 [PubMed] [Cross Ref]
  17. Cooper R. A., Halas E., Molan P. C. (2002a). The efficacy of honey in inhibiting strains of Pseudomonas aeruginosa from infected burns. J. Burn Care Rehabil. 23 366–370. 10.1097/00004630-200211000-00002 [PubMed] [Cross Ref]
  18. Cooper R. A., Molan P. C. (1999). The use of honey as an antiseptic in managing Pseudomonas infection. J. Wound Care 8 161–164. 10.12968/jowc.1999.8.4.25867 [PubMed] [Cross Ref]
  19. Cooper R. A., Molan P. C., Harding K. G. (1999). Antibacterial activity of honey against strains of Staphylococcus aureus from infected wounds. J. R. Soc. Med. 92 283–285. [PMC free article] [PubMed]
  20. Cooper R. A., Molan P. C., Harding K. G. (2002b). The sensitivity to honey of Gram-positive cocci of clinical significance isolated from wounds. J. Appl. Microbiol. 93 857–863. 10.1046/j.1365-2672.2002.01761.x [PubMed] [Cross Ref]
  21. Cooper R. A., Wigley P., Burton N. F. (2000). Susceptibility of multiresistant strains of Burkholderia cepacia to honey. Lett. Appl. Microbiol. 31 20–24. 10.1046/j.1472-765x.2000.00756.x [PubMed] [Cross Ref]
  22. Dart A., Bischofberger A., Dart C., Jeffcott L. (2015). A review of research into second intention equine wound healing using manuka honey: current recommendations and future applications. Equine Vet. Educ. 27 658–664. 10.1111/eve.12379 [Cross Ref]
  23. Estevinho L., Pereira A. P., Moreira L., Dias L. G., Pereira E. (2008). Antioxidant and antimicrobial effects of phenolic compounds extracts of Northeast Portugal honey. Food Chem. Toxicol. 46 3774–3779. 10.1016/j.fct.2008.09.062 [PubMed] [Cross Ref]
  24. French V. M., Cooper R. A., Molan P. C. (2005). The antibacterial activity of honey against coagulase-negative Staphylococci. J. Antimicrobial Chemother. 56 228–231. 10.1093/jac/dki193 [PubMed] [Cross Ref]
  25. George N. M., Cutting K. F. (2007). Antibacterial honey (Medihoney): in-vitro activity against clinical isolates of MRSA, VRE, and other multiresistant gram-negative organisms including Pseudomonas aeruginosa. Wounds 19:231. [PubMed]
  26. Halstead F. D., Webber M. A., Rauf M., Burt R., Dryden M., Oppenheim B. A. (2016). In vitro activity of an engineered honey, medical-grade honeys, and antimicrobial wound dressings against biofilm-producing clinical bacterial isolates. J. Wound Care 25 93–102. 10.12968/jowc.2016.25.2.93 [PubMed] [Cross Ref]
  27. Hammond E. N., Donkor E. S. (2013). Antibacterial effect of Manuka honey on Clostridium difficile. BMC Res. 6:188 10.1186/1756-0500-6-188 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  28. Henriques A. F., Jenkins R. E., Burton N. F., Cooper R. A. (2010). The intracellular effects of manuka honey on Staphylococcus aureus. Eur. J. Clin. Microbiol. Infect. Dis. 29 45–50. 10.1007/s10096-009-0817-2 [PubMed] [Cross Ref]
  29. Henriques A. F., Jenkins R. E., Burton N. F., Cooper R. A. (2011). The effect of manuka honey on the structure of Pseudomonas aeruginosa. Eur. J. Clin. Microbiol. Infect. Dis. 30 167–171. 10.1007/s10096-010-1065-1 [PubMed] [Cross Ref]
  30. Hudson N. J., Dalrymple B. P., Reverter A. (2012). Beyond differential expression: the quest for causal mutations and effector molecules. BMC Genomics 13:356 10.1186/1471-2164-13-356 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  31. Irish J., Blair S., Carter D. (2011). The antibacterial activity of honey derived from Australian flora. PLoS ONE 6:e18229 10.1371/journal.pone.0018229 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  32. Irish J., Carter D. A., Shokohi T., Blair S. E. (2006). Honey has an antifungal effect against Candida species. Med. Mycol. 44 289–291. 10.1080/13693780600931986 [PubMed] [Cross Ref]
  33. Jenkins R., Burton N., Cooper R. (2011). Effect of manuka honey on the expression of universal stress protein A in methicillin-resistant Staphylococcus aureus. Int. J. Antimicrob. Agents 37 373–376. 10.1016/j.ijantimicag.2010.11.036 [PubMed] [Cross Ref]
  34. Jenkins R., Burton N., Cooper R. (2013). Proteomic and genomic analysis of methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) exposed to manuka honey in vitro demonstrated down-regulation of virulence markers. J. Antimicrobial Chemother. 69 603–615. 10.1093/jac/dkt430 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  35. Jenkins R., Cooper R. (2012). Improving antibiotic activity against wound pathogens with manuka honey in vitro. PLoS ONE 7:e45600 10.1371/journal.pone.0045600 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  36. Jenkins R., Roberts A., Brown H. L. (2015a). On the antibacterial effects of manuka honey: mechanistic insights. Res. Rep. Biol. 6 215–224. 10.2147/RRB.S75754 [Cross Ref]
  37. Jenkins R., Wootton M., Howe R., Cooper R. (2015b). A demonstration of the susceptibility of clinical isolates obtained from cystic fibrosis patients to manuka honey. Arch. Microbiol. 197 597–601. 10.1007/s00203-015-1091-6 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  38. Kalapos M. P. (2008). The tandem of free radicals and methylglyoxal. Chem. Biol. Interact. 171 251–271. 10.1016/j.cbi.2007.11.009 [PubMed] [Cross Ref]
  39. Kato Y., Umeda N., Maeda A., Matsumoto D., Kitamoto N., Kikuzaki H. (2012). Identification of a novel glycoside, leptosin, as a chemical marker of manuka honey. J. Agric. Food Chem. 60 3418–3423. 10.1021/jf300068w [PubMed] [Cross Ref]
  40. Kilty S. J., Duval M., Chan F. T., Ferris W., Slinger R. (2011). Methylglyoxal: (active agent of manuka honey) in vitro activity against bacterial biofilms. Int. Forum Allergy Rhinol. 1 348–350. 10.1002/alr.20073 [PubMed] [Cross Ref]
  41. Kronda J. M., Cooper R. A., Maddocks S. E. (2013). Manuka honey inhibits siderophore production in Pseudomonas aeruginosa. J. Appl. Microbiol. 115 86–90. 10.1111/jam.12222 [PubMed] [Cross Ref]
  42. Kwakman P. H., te Velde A. A., de Boer L., Vandenbroucke-Grauls C. M., Zaat S. A. (2011). Two major medicinal honeys have different mechanisms of bactericidal activity. PLoS ONE 6:e17709 10.1371/journal.pone.0017709 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  43. Lee J.-H., Park J.-H., Kim J.-A., Neupane G. P., Cho M. H., Lee C.-S., et al. (2011). Low concentrations of honey reduce biofilm formation, quorum sensing, and virulence in Escherichia coli O157: H7. Biofouling 27 1095–1104. 10.1080/08927014.2011.633704 [PubMed] [Cross Ref]
  44. Lin S. M., Molan P. C., Cursons R. T. (2011). The controlled in vitro susceptibility of gastrointestinal pathogens to the antibacterial effect of manuka honey. Eur. J. Clin. Microbiol. Infect. Dis. 30 569–574. 10.1007/s10096-010-1121-x [PubMed] [Cross Ref]
  45. Liu M., Lu J., Müller P., Turnbull L., Burke C. M., Schlothauer R. C., et al. (2014). Antibiotic-specific differences in the response of Staphylococcus aureus to treatment with antimicrobials combined with manuka honey. Front. Microbiol. 5:779 10.3389/fmicb.2014.00779 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  46. Lu J., Carter D. A., Turnbull L., Rosendale D., Hedderley D., Stephens J., et al. (2013). The effect of New Zealand kanuka, manuka and clover honeys on bacterial growth dynamics and cellular morphology varies according to the species. PLoS ONE 8:e55898 10.1371/journal.pone.0055898 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  47. Lu J., Turnbull L., Burke C. M., Liu M., Carter D. A., Schlothauer R. C., et al. (2014). Manuka-type honeys can eradicate biofilms produced by Staphylococcus aureus strains with different biofilm-forming abilities. PeerJ 2:e326 10.7717/peerj.326 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  48. Maddocks S. E., Jenkins R. E., Rowlands R. S., Purdy K. J., Cooper R. A. (2013). Manuka honey inhibits adhesion and invasion of medically important wound bacteria in vitro. Fut. Microbiol. 8 1523–1536. 10.2217/fmb.13.126 [PubMed] [Cross Ref]
  49. Maddocks S. E., Lopez M. S., Rowlands R. S., Cooper R. A. (2012). Manuka honey inhibits the development of Streptococcus pyogenes biofilms and causes reduced expression of two fibronectin binding proteins. Microbiology 158 781–790. 10.1099/mic.0.053959-0 [PubMed] [Cross Ref]
  50. Majtan J. (2014). Honey: an immunomodulator in wound healing. Wound Repair Regenerat. 22 187–192. 10.1111/wrr.12117 [PubMed] [Cross Ref]
  51. Majtan J., Bohova J., Horniackova M., Klaudiny J., Majtan V. (2014a). Anti-biofilm effects of honey against wound pathogens Proteus mirabilis and Enterobacter cloacae. Phytother. Res. 28 69–75. 10.1002/ptr.4957 [PubMed] [Cross Ref]
  52. Majtan J., Bohova J., Prochazka E., Klaudiny J. (2014b). Methylglyoxal may affect hydrogen peroxide accumulation in manuka honey through the inhibition of glucose oxidase. J. Med. Food 17 290–293. 10.1089/jmf.2012.0201 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  53. Majtan J., Klaudiny J., Bohova J., Kohutova L., Dzurova M., Sediva M., et al. (2012). Methylglyoxal-induced modifications of significant honeybee proteinous components in manuka honey: possible therapeutic implications. Fitoterapia 83 671–677. 10.1016/j.fitote.2012.02.002 [PubMed] [Cross Ref]
  54. Majtan J., Majtanova L., Bohova J., Majtan V. (2011). Honeydew honey as a potent antibacterial agent in eradication of multi-drug resistant Stenotrophomonas maltophilia isolates from cancer patients. Phytother. Res. 25 584–587. 10.1002/ptr.3304 [PubMed] [Cross Ref]
  55. Malone L. A., Gatehouse H. S., Tregidga E. L. (2001). Effects of time, temperature, and honey on Nosema apis (Microsporidia: Nosematidae), a parasite of the honeybee, Apis mellifera (Hymenoptera: Apidae). J. Invertebrate Pathol. 77 258–268. 10.1006/jipa.2001.5028 [PubMed] [Cross Ref]
  56. Mavric E., Wittmann S., Barth G., Henle T. (2008). Identification and quantification of methylglyoxal as the dominant antibacterial constituent of Manuka (Leptospermum scoparium) honeys from New Zealand. Mol. Nutrit. Food Res. 52 483–489. 10.1002/mnfr.200700282 [PubMed] [Cross Ref]
  57. Molan P. M. (2008). An explanation of why the MGO level in manuka honey does not show the antibacterial activity. New Zealand Beekeeper 16 11–13.
  58. Mullai V., Menon T. (2007). Bactericidal activity of different types of honey against clinical and environmental isolates of Pseudomonas aeruginosa. J. Alternat. Complement. Med. 13 439–442. 10.1089/acm.2007.6366 [PubMed] [Cross Ref]
  59. Müller P., Alber D. G., Turnbull L., Schlothauer R. C., Carter D. A., Whitchurch C. B., et al. (2013). Synergism between Medihoney and rifampicin against methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). PLoS ONE 8:e57679 10.1371/journal.pone.0057679 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  60. Mundo M. A., Padilla-Zakour O. I., Worobo R. W. (2004). Growth inhibition of foodborne pathogens and food spoilage organisms by select raw honeys. Int. J. Food Microbiol. 97 1–8. 10.1016/j.ijfoodmicro.2004.03.025 [PubMed] [Cross Ref]
  61. Nilforoushzadeh M. A., Jaffary F., Moradi S., Derakhshan R., Haftbaradaran E. (2007). Effect of topical honey application along with intralesional injection of glucantime in the treatment of cutaneous leishmaniasis. BMC Complement Altern. Med. 7:1 10.1186/1472-6882-7-1 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  62. Norton A. M., McKenzie L. N., Brooks P. R., Pappalardo L. J. (2015). Quantitation of dihydroxyacetone in Australian Leptospermum nectar via High-Performance Liquid Chromatography. J. Agric. Food Chem. 63 6513–6517. 10.1021/acs.jafc.5b01930 [PubMed] [Cross Ref]
  63. Okhiria O., Henriques A., Burton N., Peters A., Cooper R. (2009). Honey modulates biofilms of Pseudomonas aeruginosa in a time and dose dependent manner. J. ApiProduct. ApiMedical Sci. 1 6–10. 10.3896/IBRA.4.01.1.03 [Cross Ref]
  64. Osato M. S., Reddy S. G., Graham D. Y. (1999). Osmotic effect of honey on growth and viability of Helicobacter pylori. Dig. Dis. Sci. 44 462–464. 10.1023/A:1026676517213 [PubMed] [Cross Ref]
  65. Packer J. M., Irish J., Herbert B. R., Hill C., Padula M., Blair S. E., et al. (2012). Specific non-peroxide antibacterial effect of manuka honey on the Staphylococcus aureus proteome. Int. J. Antimicrob. Agents 40 43–50. 10.1016/j.ijantimicag.2012.03.012 [PubMed] [Cross Ref]
  66. Regulski M. (2008). A novel wound care dressing for chronic leg ulcerations. Podiatry Manag. 27 235–246.
  67. Roberts A. E., Maddocks S. E., Cooper R. A. (2012). Manuka honey is bactericidal against Pseudomonas aeruginosa and results in differential expression of oprF and algD. Microbiology 158 3005–3013. 10.1099/mic.0.062794-0 [PubMed] [Cross Ref]
  68. Roberts A. E. L., Maddocks S. E., Cooper R. A. (2015). Manuka honey reduces the motility of Pseudomonas aeruginosa by suppression of flagella-associated genes. J. Antimicrob. Chemother. 70 716–725. 10.1093/jac/dku448 [PubMed] [Cross Ref]
  69. Sajid M., Azim M. K. (2012). Characterization of the nematicidal activity of natural honey. J. Agric. Food Chem. 60 7428–7434. 10.1021/jf301653n [PubMed] [Cross Ref]
  70. Shahzad A., Cohrs R. J. (2012). In vitro antiviral activity of honey against varicella zoster virus (VZV): a translational medicine study for potential remedy for shingles. Transl. Biomed. 3:2. [PMC free article] [PubMed]
  71. Sherlock O., Dolan A., Athman R., Power A., Gethin G., Cowman S., et al. (2010). Comparison of the antimicrobial activity of Ulmo honey from Chile and Manuka honey against methicillin-resistant Staphylococcus aureus, Escherichia coli and Pseudomonas aeruginosa. BMC Complement Altern. Med. 10:47 10.1186/1472-6882-10-47 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  72. Silva-Rocha R., de Lorenzo V. (2010). Noise and robustness in prokaryotic regulatory networks. Annu. Rev. Microbiol. 64 257–275. 10.1146/annurev.micro.091208.073229 [PubMed] [Cross Ref]
  73. Smith T., Hanft J. R., Legel K. (2009). Topical Leptospermum honey in recalcitrant venous leg wounds: a preliminary case series. Adv. Skin Wound Care 22 68–71. 10.1097/01.ASW.0000345283.05532.9a [PubMed] [Cross Ref]
  74. Soffer A. (1976). Chihuahuas and laetrile, chelation therapy, and honey from Boulder, Colorado [editorial]. Arch. Intern. Med. 136 865–866. 10.1001/archinte.136.8.865 [PubMed] [Cross Ref]
  75. Sojka M., Valachova I., Bucekova M., Majtan J. (2016). Antibiofilm efficacy of honey and bee-derived defensin-1 on multi-species wound biofilm. J. Med. Microbiol. 10.1099/jmm.0.000227 [Epub ahead of print]. [PubMed] [Cross Ref]
  76. Stephens J. M., Schlothauer R. C., Morris B. D., Yang D., Fearnley L., Greenwood D. R., et al. (2010). Phenolic compounds and methylglyoxal in some New Zealand manuka and kanuka honeys. Food Chem. 120 78–86. 10.1016/j.foodchem.2009.09.074 [Cross Ref]
  77. Tan H. T., Rahman R. A., Gan S. H., Halim A. S., Hassan S. A., Sulaiman S. A., et al. (2009). The antibacterial properties of Malaysian tualang honey against wound and enteric microorganisms in comparison to manuka honey. BMC Complement Altern. Med. 9:34 10.1186/1472-6882-9-34 [PMC free article] [PubMed] [Cross Ref]
  78. Watanabe K., Rahmasari R., Matsunaga A., Haruyama T., Kobayashi N. (2014). Anti-influenza viral effects of honey in vitro: potent high activity of manuka honey. Arch. Med. Res. 45 359–365. 10.1016/j.arcmed.2014.05.006 [PubMed] [Cross Ref]
  79. Wilkinson J. M., Cavanagh H. M. A. (2005). Antibacterial activity of 13 honeys against Escherichia coli and Pseudomonas aeruginosa. J. Med. Food 8 100–103. 10.1089/jmf.2005.8.100 [PubMed] [Cross Ref]
  80. Williams S., King J., Revell M., Manley-Harris M., Balks M., Janusch F., et al. (2014). Regional, annual, and individual variations in the dihydroxyacetone content of the nectar of manuka (Leptospermum scoparium) in New Zealand. J. Agric. Food Chem. 62 10332–10340. 10.1021/jf5045958 [PubMed] [Cross Ref]
  81. Willix D. J., Molan P. C., Harfoot C. G. (1992). A comparison of the sensitivity of wound-infecting species of bacteria to the antibacterial activity of manuka honey and other honey. J. Appl. Bacteriol. 73 388–394. 10.1111/j.1365-2672.1992.tb04993.x [PubMed] [Cross Ref]
  82. Windsor S., Pappalardo M., Brooks P., Williams S., Manley-Harris M. (2012). A convenient new analysis of dihydroxyacetone and methylglyoxal applied to Australian Leptospermum honeys. J. Pharmacogn. Phytother. 4 6–11.

Официален блог на WebEKM EKM очаквайте сайта онлайн скоро.

Download Free Templates http://bigtheme.net/ free full Wordpress, Joomla, Mgento - premium themes.

Website ini hanya bersifat informasinal dan tidak dimaksudkan mendiagnosis,
merawat, atau mencegah penyakit atau kondisi medis apapun. Sebelum
menggunkan bahan-bahan untuk pengobatan alami, disarankan untuk
untuk berkonsultasi dengan petugas medis profesional berlisensi.

Copyright © 2017 thibbun-nabawi.com

Powered by Warp Theme Framework
MADU MANUKA : TIDAK LAGI SEKEDAR PENGOBATAN ALTERNATIF