Onlain bookmaker bet365.com - the best bokie

KHASIAT ANTI BAKTERI MADU MENTAH DAN MADU OLAHAN

 

Oleh : D. P. Mohapatra, V. Thakur, and S. K. Brar

Diterjemahkan dari ncbi.nlm.nih.gov

riset-madu

Abstrak

Telah dilakukan pengujian secara vitro pada aktivitas antibakteri bahan metanol, etanol, dan etil asetat hasil dari pengekstrakan madu mentah dan madu olahan terhadap bakteri Gram positif (Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, Bacillus cereus, Enterococcus faecalis, dan Micrococcus luteus) dan bakteri Gram negatif (Escherichia coli , Pseudomonas aeruginosa, dan Salmonella typhi).

Kedua jenis madu menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap organisme yang diuji dengan zona penghambatan (zone of inhibition atau ZOI) berkisar antara 6,94 sampai 37,94 mm, sedangkan E. coli, S. typhi, dan P. aeruginosa menunjukkan sensibilitas terhadap semua ekstrak tersebut dengan ZOI berkisar antara 13.09 sampai 37,94 mm. Ekstrak metanol menunjukkan aktivitas yang lebih manjur dibanding dengan ekstrak organik lainnya. Bakteri gram negatif ternyata lebih rentan dibandingkan dengan bakteri Gram positif kecuali E. faecalis. Kedua uji microdilution menunjukkan nilai konsentrasi hambat minimum (MIC) sebesar 625 μg / mL, sedangkan konsentrasi bakteriisida minimum (MBC) berkisar antara 625 μg / mL 2500 μg / mL. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa madu memiliki aktivitas antibakteri (efek bakteriostatik dan bakterisida) yang sama dengan antibiotik, terhadap organisme yang diujikan dan memberi kita pilihan terapi alternatif untuk mengatasi bakteri jenis tertentu.

1. Pendahuluan

Produk alami dan turunannya (termasuk antibiotik) mewakili lebih dari 50% seluruh obat yang digunakan dalam penggunaan klinis di dunia. Menurut perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia - WHO, sekitar 80 persen orang yang tinggal di negara berkembang bergantung pada tanaman herbal liar untuk mengobati beberapa jenis penyakit [1] . Ada beberapa laporan tentang aktivitas antimikroba dari berbagai ekstrak herbal di berbagai wilayah di dunia [2, 3] . Karena adanya efek samping dan resistensi mikroorganisme patogen terhadap antibiotik, baru-baru ini banyak perhatian diberikan pada ekstrak dan senyawa aktif secara biologis yang diisolasi dari spesies alami yang digunakan dalam pengobatan herbal.

Aktivitas antibakteri madu pertama kali ditemukan pada tahun 1892, oleh Dustmann [4] . Madu telah lama digunakan sebagai obat dalam banyak peradaban dan kebudayaan. Namun, obat ini terbatas penggunaannya karena kurangnya dukungan ilmiah [5] . Madu kemudian banyak digunakan kembali oleh para profesi medis dan mendapatkan tempat sebagai pengobatan antibakteri dari infeksi topikal yang diakibatkan luka bakar dan luka luar [6] . Madu dipercaya dapat menghambat bebagai spesies bakteri dengan spektrum yang luas. Baru-baru ini, madu telah dilaporkan memiliki efek penghambatan terhadap sekitar 60 spesies bakteri baik aerob maupun anaerob, Gram positif, dan Gram negatif [7] . Ada banyak laporan yang menyebutkan aktivitas bakterisida dan aktivitas bakteriostatik madu dan sifat antibakteri madu mungkin sangat berguna untuk melawan bakteri yang telah resisten terhadap banyak antibiotik yang sudah sering kita gunakan [8] .

Madu dilaporkan efektif dalam penyembuhan infeksi luka pasca operasi [9] . Aktivitas antimikroba dilaporkan oleh Radwan dkk. [10] yang mengamati bahwa madu dapat menghentikan pertumbuhan Salmonella dan Escherichia coli. Madu memiliki aktivitas antibakteri yang manjur dan sangat efektif dalam membersihkan infeksi pada luka dan melindungi mereka dari infeksi [11] . Madu sangat bermanfaat dalam pengobatan infeksi luka bedah, luka bakar, dan bisul dekubitus (luka baring). Hal tersebut dilakukan dengan mempertahankan kelembaban lingkungan sekitar tempat luka yang akan mendukung proses penyembuhan, dan level viskositas madu yang tinggi membantu membentuk lapisan pelindung untuk mencegah infeksi. Meski dalam konsentrasi rendah, madu yang berfungsi sebagai antiseptik ini efektif terhadap bakteri infektif dan dapat berperan dalam mekanisme penyembuhan luka [12] dan mampu menstimulasi dan proliferasi aktivitas limfositik darah dan fagosit perifer. Selain itu, tingkat keasaman yang rendah dan pelepasan hidrogen peroksida tingkat rendah membantu perbaikan jaringan sel dan berkontribusi pada aktivitas antibakteri [13].

Secara umum, semua jenis madu memiliki kadar gula tinggi namun dengan kadar air dan keasaman yang rendah, yang mencegah pertumbuhan mikroba. Sebagian besar jenis madu menghasilkan hidrogen peroksida saat diencerkan karena aktivasi enzim glukosa oksidase, yang mengoksidasi glukosa menjadi asam glukonat dan hidrogen peroksida [14] . Hidrogen peroksida merupakan kontributor utama aktivitas antimikroba madu, dan konsentrasi yang berbeda-beda senyawa ini menghasilkan efek antimikroba yang bervariasi pula [15] . Selain sifat antimikrobanya, madu dapat membersihkan infeksi dengan berbagai cara, termasuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dengan aktivitas antiinflamasi dan antioksidan yang dimiliki, atau dengan menstimulasi pertumbuhan sel [16].

Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri (efek bakteriostatik dan bakterisida) madu terhadap delapan bakteri bakteri yang berbeda seperti Staphylococcus aureus (MTCC-737), Bacillus subtilis (MTCC-736), Bacillus cereus (MTCC -430), Pseudomonas aeruginosa (MTCC-731), Escherichia coli (MTCC-1687), Salmonella typhi (MTCC-531), Enterococcus faecalis (MTCC-439), dan Micrococcus-luteus (MTCC-2470).

2. Material and Metode

2.1. Material and Metode

Media yang berbeda-beda yang digunakan seperti Mueller Hinton Agar (MHA), Soybean Casein Digest Agar (TSA), Nutrient Agar (NA), dan Soyabean Casein Digest Medium (Tryptone Soya Broth) (SCDB) dibeli dari HIMEDIA, India. Metanol HPLC grade (MeOH), etil asetat, etanol, dan dimetil sulfoksida (DMSO), digunakan untuk tujuan pembersihan dan ekstraksi, dibeli dari Fisher Scientific (Powai, Mumbai, India). Air kelas HPLC disiapkan di laboratorium menggunakan sistem Milli-Q / Milli-RO Millipore (Milford, MA, AS).

2.2. Antibiotik

Antibiotik yang digunakan meliputi CIPROFLOXACIN: Tablet Ciprofloxacin Hydrochloride IP (500 mg) Ciplox-500, B.No. ("tipe": "entrez-nukleotida", "attrs": {"text": "D80502", "term_id": "1178379", "term_text": "D80502"}} D80502, Mfg tanggal: Februari 2008, Exp. Tanggal: Januari 2011, Mfd. oleh Cipla limited; TETRACYCLINE: Tetracycline Hydrochloride Capsules IP (500 mg) Hostacycline 500. B.NO. 217292, Mfg tanggal-Oktober 2007, Exp. Tanggal: Maret 2009, Mfd. oleh, Aventis Pharma limited.

2.3. Kultur Mikroba dan Kumpulan Sampel Madu dengan Bakteri Strain

Total sebanyak sembilan kultur mikroba dari delapan jenis bakteri dan satu spesies ragi digunakan dalam penelitian ini. Daftar mikroorganisme yang digunakan dengan data patogenisitasnya disajikan pada Tabel 1. Mikroorganisme disediakan oleh ShriRam Institute for Industrial Research, Delhi, India. Dua sampel madu mentah dan madu olahan. Sampel madu mentah (batch no. S-07) yang disediakan oleh ShriRam Institute for Industrial Research, Delhi, India dan sampel madu olahan diambil dari madu yang dijual dipasaran.

Table 1

Daftar mikroorganisme yang digunakan berkaitan dengan sifat patogenisitas dan reaksi Gram.

Name of organism MTCC no. ATCC no. NCTC no. Pathogenicity Gram reaction
Staphylococcusaureus 737 6538 7447 Nonpathogenic Gram-positive
Bacillussubtilis 736 6633 Pathogenic Gram positive
Bacilluscereus 430 11778 10320 Nonpathogenic Gram positive
Pseudomonasaeruginosa 741 25668 10662 Nonpathogenic Gram negative
Escherichiacoli 1687 8739 Nonpathogenic Gram negative
Salmonellatyphi 531 6539 Nonpathogenic Gram negative
Micrococcus luteus 2470 Nonpathogenic Gram positive
Enterococcusfaecalis 439 Pathogenic Gram positive

2.4. Persiapan ektrak madu

Komponen aktif madu diekstraksi dengan metanol, etanol, dan etil asetat berdasarkan polaritasnya. Madu mentah dan madu olahan (10 g masing-masing) dimasukkan kedalam dua tabung reaksi, dan 25 mL metanol ditambahkan. Kemudian larutannya dicampur dengan baik dengan vortexing dan disentrifugasi pada 3000 rpm selama 10 menit pada suhu 25° C. Supernatan dikumpulkan dari masing-masing tabung reaksi dan dipindahkan ke tabung uji stopper dengan filtrasi. Supernatan yang dihasilkan diuapkan sampai kering dengan aliran nitrogen yang ringan dan dilarutkan dengan 10 mL dimetil sulfoksida dan dicampur dengan baik dengan vorteks. Prosedur yang sama diikuti baik untuk madu mentah maupun madu olahan dengan etanol dan etil asetat.

2.5. Subkultur Organisme Uji and Persiapan Bacterial Inoculum

Organisme yang uji diambil dari Microbial Type Culture Collections (MTCC) (Institute of Microbial Technology, Chandigarh) yang dapat dilacak pada American Type Culture Collections (ATCC). Semua referensi kultur bakteri dan jamur disubkultur pada Gizi Agar. bakteri diinkubasi selama semalam pada suhu 37 ° C, dan jamur diinkubasi selama 48 jam pada suhu 37 °C.

Kepadatan kultur bakteri dan jamur Mcfarland disesuaikan dengan kadar garam normal (85%, v / v) dengan menggunakan densitometer untuk mencapai konsentrasi akhir 1 × 108 cfu / mL dari masing-masing organisme uji secara terpisah. Ini telah digunakan sebagai inokulum yang disesuaikan untuk semua penelitian lebih lanjut.

2.6. Uji Antimikroba

Aktivitas antibakteri ekstrak madu metanol, etanol, dan etil asetat dievaluasi secara vitro dengan menggunakan uji agar well-diffusion [17]. Kultur yang telah disesuaikan (100 μL) dicampur dengan 100 mL Muller Hinton Agar (MHA) dan dituangkan sebanyak 25 mL ke dalam cawan petri steril (90 mm) untuk dipadatkan, dan kemudian masing-masing cawan ditandai untuk organisme yang diinokulasi. Setelah pemadatan, cawan ditempa untuk membuat ceruk berdiameter 6 mm dengan bantuan penggerek gabus steril. Ekstrak metanol, etanol dan etil asetat (100 μL masing-masing) dituangkan ke dalam ceruk di cawan uji [18]. cawan diinkubasi selama semalam pada suhu 37 ° C, dan semua cawan diamati untuk zona penghambatan (ZOI); Diameter dari zona tersebut kemudian diukur dalam milimeter dengan menggunakan caliper Vernier. Kontrol positif (standar antibiotik ciprofloxacin dan tetrasiklin 5 μg / mL) dan kontrol negatif (DMSO, metanol, etanol, dan etil asetat) diperiksa dengan prosedur yang sama. Kontrol pelarut tidak menunjukkan aktivitas.

2.7. Minimum Inhibitory Concentration (MIC)

Teknik pengenceran larutan madu digunakan untuk memastikan MIC sampel madu. Pengujian dilakukan seperti yang dijelaskan oleh Heuvelink et al. [19]. Ekstrak metanol E. coli, P. aeruginosa, S. typhi, B. subtilis, B. cereus, dan M. luteus yang menunjukkan aktivitas antibakteri yang signifikan selanjutnya dipilih untuk penentuan MIC. Stok larutan 1000 μg / mL dibuat dengan melarutkan 5 mg ekstrak metanol yang ditambahkan dalam 5 mL DMSO. Kemudian jumlah larutannya dilipat gandakan dua kali lipat dengan mencampurkan dengan SCDB (Soya Bean Casein Digest Broth) untuk mendapatkan berbagai rentang konsentrasi antara 2.500 μg / mL dan 312,5 μg / mL. Volume 100 μg / mL suspensi bakteri yang telah disesuaikan sebelumnya pada konsentrasi 108 CFU / mL ditambahkan, dan tabung lain yang mengandung sari ekstrak hanya digunakan sebagai kontrol negatif. Semua tabung reaksi dan tabung kontrol diinkubasi pada suhu 37 ° C selama 18-24 jam. Setelah periode inkubasi, tabung yang mengandung paling sedikit konsentrasi ekstrak yang menunjukkan tidak ada pertumbuhan yang tampak dianggap sebagai MIC [20].

2.8. Minimum Bactericidal Concentration (MBC)

Dari tabung yang tidak menunjukkan tanda pertumbuhan / kekeruhan pada penentuan MIC, mikroorganisme uji diinokulasi ke cawan - cawan agar nutrien steril dengan metode streak plate. cawan kemudian diinkubasi pada suhu 37 ° C selama 24 jam. Konsentrasi paling sedikit yang tidak menunjukkan pertumbuhan organisme uji dianggap sebagai MBC.

3. Hasil dan Diskusi

3.1. Uji Kerentanan Antibakteri

Tabel Tabel22 dan dan33 menunjukkan hasil pengujian secara vitro kerentanan ekstrak madu mentah dan madu olahan memiliki tingkat aktivitas antibakteri yang berbeda terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif menggunakan metanol, etanol, dan etil asetat. Ini mungkin karena efek osmotik, efek pH, dan sensitivitas organisme ini terhadap hidrogen peroksida yang tidak mendukung pertumbuhan bakteri, yang anggap sebagai "penghambat" dalam madu [21]. Mayoritas variasi yang terlihat pada aktivitas antibakteri secara keseluruhan adalah karena perubahan tingkat peroksida hidrogen yang dicapai dan dalam beberapa kasus pada tingkat faktor nonperoksida. Kandungan faktor nonperoksida jelas terkait dengan sumber bunga dan terkadang dicatat sebagai bagian utama dari aktivitas antibakteri pada madu [22]. Namun, konsentrasi hidrogen peroksida yang dihasilkan dalam madu biasanya sekitar 1 mmol / L [15], sekitar 1000 kali lebih kecil dari 3% larutan yang biasa digunakan sebagai antiseptik. Efek berbahaya dari hidrogen peroksida selanjutnya dikurangi ketika madu diisolasi dan menonaktifkan zat besi bebas yang menjadi katalisis pembentukan radikal bebas oksigen yang dihasilkan oleh hidrogen peroksida [23], dan komponen antioksidannya membantu membersihkan radikal bebas oksigen [24].

Table 2

Kerentanan antimikroba dari madu mentah.

  Antibacterial activity (zone of inhibition in mm)
Test organisms Extracts   Positive control
  Methanol Ethanol Ethyl acetate Ciprofloxacin Tetracycline
           
S. aureus MTCC-737 8.58 ± 3 8.9 ± 5 9.15 ± 1 14.75 ± 0.9 26.44 ± 5.2
B. cereus MTCC-430 11.11 ± 6 12.83 ± 9 11.46 ± 7 16.67 ± 2.2 17.01 ± 0.81
B. subtilis MTCC-736 8.55 ± 2 nd 11.19 ± 9 19.01 ± 2 21.01 ± 3.2
M. luteus MTCC-2470 11.21 ± 10 9.97 ± 2 10.77 ± 4 23.85 ± 0.4 19.11 ± 1.6
S. typhi MTCC-531 34.39 ± 4 31.85 ± 3 nd 14.75 ± 1.7 26.96 ± 4.3
E. coli MTCC-1687 26.49 ± 6 17.51 ± 5 17.15 ± 4 16.67 ± 3.5 16.03 ± 0.49
P.aeruginosa MTCC-741 35.95 ± 11 32.35 ± 14 13.09 ± 9 19.01 ± 0.83 11.68 ± 0.03
E. faecalis MTCC-439 nd nd nd nd nd

± refers to standard error, nd: not detected.

 

Table 3

Kerentanan antimikroba madu olahan.

  Antibacterial activity (zone of inhibition in mm)
Test organisms Extracts   Positive control
  Methanol Ethanol Ethyl acetate Ciprofloxacin Tetracycline
S.aureus MTCC-737 11.54 ± 2.1 nd 9.15 ± 3.8 14.75 ± 1.0 26.44 ± 1.7
B.cereus MTCC-430 23.70 ± 1 6.94 ± 1.4 nd 16.67 ± 1.8 17.01 ± 4.2
B.subtilis MTCC-736 nd 7.83 ± 5.5 7.25 ± 2.3 19.01 ± 4.3 21.01 ± 6.1
M.luteus MTCC-2470 18.52 ± 2.1 nd nd 23.85 ± 0.9 nd
S.typhi MTCC-531 37.94 ± 11.7 35.92 ± 13.2 36.58 ± 7.9 14.75 ± 3.1 26.96 ± 0.9
E.coli MTCC-1687 28.49 ± 5.1 16.14 ± 7.3 17.75 ± 11.2 16.67 ± 0.9 16.03 ± 1.1
P.aeruginosa MTCC-741 33.40 ± 5 23.43 ± 14.1 24.60 ± 13.5 19.01 ± 1.7 11.03 ± 0.51
E.faecalis MTCC-439 8.13 ± 1.7 nd nd nd nd

± refers-standard error, nd: not detected.

Kedua madu mentah dan olahan menunjukkan efek penghambatan yang sebagian besar melekat pada semua organisme uji yang dipilih kecuali E. faecalis. Studi lebih lanjut oleh Basualdo dkk. [25] juga mengungkapkan hasil yang sama. S. typhi, P.aeruginosa, dan E. coli menunjukkan aktivitas antibakteri yang signifikan dengan kisaran ZOI antara 37,94 mm dan 13,94 mm. Aktivitas yang signifikan mungkin karena sifat madu yang memiliki tingkat hidrogen peroksida lebih tinggi bersamaan dengan osmolaritas. Juga, ekstrak metanol menunjukkan bahwa ZOI maksimum antara rentang 37,94 dan 8,13 mm mengacu pada semua organisme uji (Staphylococcus aureus (MTCC-737), Bacillus subtilis (MTCC-736), Bacillus cereus (MTCC-430), Pseudomonas aeruginosa (MTCC -731), Escherichia coli (MTCC-1687), Salmonella typhi (MTCC-531), Enterococcus faecalis (MTCC-439), dan Micrococcus-luteus (MTCC-2470)) Setiap zona dengan diameter kurang dari 7 mm menunjukkan bahwa mikroorganisme resisten terhadap sampel madu, namun diameter zona lebih besar dari 11 mm menunjukkan bahwa mikroorganisme sensitif terhadap sampel madu [26]. Bakteri gram negatif menunjukkan peningkatan inhibisi kecuali E. faecalis dibandingkan dengan bakteri Gram positif. AI-Namma, [27] juga mengamati bahwa madu memiliki efek penghambatan yang lebih besar pada bakteri Gram-negatif. S. typhi, P.aeruginosa, dan E. coli lebih rentan daripada organisme uji lainnya, dan madu mungkin memiliki potensi sebagai honeys terapeutik.

Aktivitas penghambatan terhadap mikroorganisme uji sangat diminati karena organisme ini menyebabkan infeksi. Ekstrak metanol menunjukkan aktivitas tertinggi pada organisme uji dibandingkan dengan etanol dan etil asetat. Hal ini mungkin disebabkan kelarutan dan polaritas komponen aktif yang lebih baik dalam metanol dibandingkan etanol dan etil asetat. Jika komponen tersebut ada dalam ekstrak madu mentah dan olahan ini, obat ini dapat digunakan untuk pengelolaan penyakit yang disebabkan oleh bakteri patogen ini dan memberi hasil yang mengesankan yang hanya dapat ditentukan secara in vivo.

Hasil pada Tabel 3 juga menunjukkan bahwa organisme uji menunjukkan tingkat resistensi multidrug yang berbeda dari antibiotik standar yang digunakan dalam penelitian ini. Organisme uji yang digunakan dalam penelitian ini tahan terhadap ciprofloxacin, dan tetrasiklin 5 μg / mL dengan ekstrak metanol, etanol, dan etil asetat menunjukkan hasil positif dengan ZOI berkisar antara 14,75-27,01 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua kontrol positif memiliki ZOI lebih tinggi dari 11 mm yang menyebabkan sensitivitas terhadap mikroorganisme. Ketika membandingkan nilai ZOI dengan kontrol positif dengan ekstrak madu mentah (Tabel 2), diamati bahwa sebagian besar ekstrak menunjukkan nilai ZOI lebih dari 11 mm. Namun, bila dibandingkan dengan aktivitas antibakteri ekstrak metanol, etanol, dan etil asetat, diamati bahwa aktivitas penghambatan ekstrak E. coli, S. typhi, dan P. aeruginosa (Gram negatif) lebih besar daripada antibiotik standar, ciprofloxacin dan tetrasiklin. Bahkan tetrasiklin tidak menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap P. aeruginosa yang ditunjukkan oleh ekstrak; Hal ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa tetrasiklin menunjukkan ZOI lebih rendah (11,68 mm (madu mentah) dan 11,03 mm (madu olahan) dengan P. aeruginosa. Hasilnya sesuai dengan Subrahmanyam dkk [28] yang menunjukkan bahwa strain P aeruginosa resisten terhadap antibiotik yang digunakan secara rutin dan antibiotik yang lebih tinggi sensitif terhadap tindakan antibakteri madu. Ekstrak metanol menunjukkan aktivitas yang lebih besar daripada antibiotik standar, potensinya sebanding dengan antibiotik standar. Hasil ini juga menyarankan bahwa sampel madu yang digunakan mengandung komponen biokomponen Aktivitas antibakteri sangat sebanding dengan dua antibiotik biasa (tetrasiklin dan siprofloksasin).

3.2. Efek Minimum Inhibitory Concentrations (MIC) dan Minimum Bactericidal Concentration (MBC)

Konsentrasi hambat minimum (MIC) untuk ekstrak aktif ditentukan dengan metode macrodilution. Hasil pada Tabel Tabel 44 dan dan 55 menunjukkan bahwa nilai MIC untuk lima organisme uji, seperti B. subtilis, M. luteus, E. coli, P. aeruginosa, dan S. typhi, adalah 625 μg / mL. Nilai MIC menunjukkan konsentrasi penghambatan di mana madu tidak menunjukkan pertumbuhan organisme uji yang terlihat.

Table 4

Minimum inhibitory concentration (MIC) and minimum bactericidal concentration (MBC) dari ekstrak metanol madu mentah.

  Test organisms
  B.subtilis E. coli P. aeruginosa S. typhi B.cereus M.luteus
MIC (μg/mL) 625 ± 17 625 ± 23 625 ± 37 625 ± 19 625 ± 8 625 ± 11
MBC (μg/mL) 625 ± 23 2500 ± 11 1250 ± 14 1250 ± 27 625 ± 23 1250 ± 32

± refers-standard error.

 

Table 5

Minimum inhibitory concentration (MIC) and minimum bactericidal concentration (MBC) of processed honey methanol extract.

  Test organisms
  B.subtilis E. coli P. aeruginosa S. typhi B.cereus M.luteus
MIC (μg/mL) 625 ± 38 625 ± 9 625 ± 7 625 ± 11 625 ± 17 625 ± 6
MBC (μg/mL) 2500 ± 12 2500 ± 16 1250 ± 21 2500 ± 18 1250 ± 6 1250 ± 9

± refers-standard error.

Nilai MBC dari kedua sampel madu berada pada kisaran 625-2500 μg / mL. Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai MBC untuk S. typhi, P. aeruginosa, E. coli, M. luteus, B. cereus dan B. subtilis adalah 1250 μg / mL, 1250 μg / mL, 2500 μg / mL, 1250 μg / mL , 625 μg / mL, dan 625 μg / mL, masing-masing, dalam kasus madu mentah. Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai MBCs madu olahan untuk S. typhi, P. aeruginosa, E. coli, M.luteus, B. cereus, dan B. subtilis adalah 2500 μg / mL, 1250 μg / mL, 2500 μg / mL , 1250 μg / mL, 1250 μg / mL, dan 2500 μg / mL. Bila rasio antara MBC yang diolah dengan madu mentah MBC, rasio yang lebih tinggi dari 4 diamati untuk E. coli. Berdasarkan penelitian ini, diamati bahwa ekstrak metanol memiliki spektrum aktivitas antibakteri yang lebih kuat dan luas. Penelitian sebelumnya telah melaporkan aktivitas antibakteri yang lebih baik dan kuat dengan ekstrak etil asetat, namun dalam penelitian ini ekstrak metanol menunjukkan aktivitas penghambatan yang lebih baik dan maksimal dibandingkan dengan etanol dan ekstrak etil asetat. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan polaritas madu mentah dan olahan dan juga karena kelarutan metanol yang lebih baik dibandingkan dengan etanol dan etil asetat.

Diantara semua ekstrak yang dianalisis dalam makalah ini, ekstrak metanol paling efektif sebagai agen antibakteri. Mengenai variasi aktivitas antibakteri di hampir semua laporan penggunaan madu secara medis sebagai agen antibakteri, tidak ada pertimbangan untuk pemilihan jenis madu untuk penggunaan terapeutik. Madu sebagai antibiotik alami bisa digunakan untuk menyembuhkan infeksi sebagai pengganti obat konvensional.

4. Kesimpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa madu memiliki aktivitas bakteriostatik dan bakteriik terhadap banyak patogen. Contoh madu ekstrak metanol menghasilkan spektrum aktivitas antibakteri yang luas. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa madu, famili terhadap antibiotik, memiliki organisme tertentu yang sensitif terhadapnya dan memberikan terapi alternatif terhadap bakteri tertentu. Oleh karena itu, perlu dicirikan komponen aktif ekstrak madu dan dorong untuk menyelidiki kemungkinan manfaat penggunaan madu di antara terapi dalam pengobatan infeksi bakteri.

Article information

Biotechnol Res Int. 2011; 2011: 917505
Diterbitkan online 2010 Des 29. doi: 10.4061 / 2011/917505
PMCID: PMC3042689
1INRS-ETE, Université du Québec, Québec, QC, Kanada G1K 9A9
2Biochemical and Bioprocess Engineering Group, Institut Bioteknologi Amity, Universitas Amity, Noida, Uttar Pradesh 201303, India
* S. K. Brar: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Editor Akademik: Kari E. Dunfield
Diterima 2010 Sep 15; Direvisi 2010/11/11; Diterima 2010 18 Des.
Hak Cipta © 2011 D. P. Mohapatra dkk.
Ini adalah artikel akses terbuka yang didistribusikan di bawah Lisensi Atribusi Creative Commons, yang mengizinkan penggunaan, distribusi, dan reproduksi tidak terbatas dalam media apa pun, asalkan karya asli dicantumkan dengan benar.
Artikel ini telah dikutip oleh artikel lain di PMC.
Artikel dari Bioteknologi Penelitian Internasional disediakan di sini milik Hindawi

Referensi

1. Elisabetsky E, Balick MJ, Laird SA.  Medicinal Resources of the Tropical Forest: Biodiversity and Its Importance to Human Health. New York, NY, USA: Columbia University Press; 1996.

2. Hammer KA, Carson CF, Riley TV. Antimicrobial activity of essential oils and other plant extracts. Journal of Applied Microbiology. 1999;86(6):985–990.  [PubMed]

3. Gulluce M, Sokmen M, Daferera D, et al.  In vitro antibacterial, antifungal, and antioxidant activities of the essential oil and methanol extracts of herbal parts and callus cultures of Satureja hortensis L. Journal of Agricultural and Food Chemistry. 2003;51(14):3958–3965.  [PubMed]

4. Dustmann JH. Antibacterial effect of honey. Apiacta. 1989;14(1):7–11.

5. Ali AT, Chowdhury MN, al Humayyd MS. Inhibitory effect of natural honey on Helicobacter pylori. Tropical Gastroenterology. 1991;12(3):139–143.  [PubMed]

6. Abuharfeil N, Al-Oran R, Abo-Shehada M. The effect of bee honey on the proliferative activity of human B- and T-lymphocytes and the activity of phagocytes. Food and Agricultural Immunology. 1999;11(2):169–177.

7. Hannan A, Barkaat M, Saleem S, Usman M, Gilani WA.  Manuka honey and its antimicrobial potential against multi drug resistant strains of Typhoidal salmonellae. Lahore, Pakistan: Department of Microbiology, University of Health Science; 2004.  Ph.D. thesis.

8. Patton T, Barrett J, Brennan J, Moran N. Use of a spectrophotometric bioassay for determination of microbial sensitivity to manuka honey. Journal of Microbiological Methods. 2006;64(1):84–95.  [PubMed]

9. Al-Waili NS, Saloom KY. Effects of topical honey on post-operative wound infections due to gram positive and gram negative bacteria following caesarean sections and hysterectomies. European Journal of Medical Research. 1999;4(3):126–130.  [PubMed]

10. Radwan SS, El-Essawy AA, Sarhan MM. Experimental evidence for the occurrence in honey of specific substances active against microorganisms. Zentralblatt fur Mikrobiologie. 1984;139(4):249–255.  [PubMed]

11. Boukraa L, Benbarek H, Moussa A. Synergistic action of starch and honey against Candida albicans in correlation with diastase number. Brazilian Journal of Microbiology. 2008;39(1):40–43. [PMC free article]  [PubMed]

12. Molan PC. Potential of honey in the treatment of wounds and burns. American Journal of Clinical Dermatology. 2001;2(1):13–19.  [PubMed]

13. Mullai V, Menon T. Bactericidal activity of different types of honey against clinical and environmental isolates of Pseudomonas aeruginosa. Journal of Alternative and Complementary Medicine. 2007;13(4):439–441.  [PubMed]

14. Schepartz AI, Subers MH. The glucose oxidase of honey I. Purification and some general properties of the enzyme. Biochimica et Biophysica Acta. 1964;85(2):228–237.  [PubMed]

15. Molan PC. The antibacterial activity of honey: the nature of the antibacterial activity. Bee World. 1992;73(1):5–28.

16. Al-Jabri AA. Honey, milk and antibiotics. African Journal of Biotechnology. 2005;4(13):1580–1587.

17. Perez C, Pauli M, Bazerque P. An antibiotic assay by agar-well diffusion method. Acta Biologiae et Medecine Experimentaalis. 1990;15:113–115.

18. Kaushik P, Chauhan A. In vitro antibacterial activity of laboratory grown culture of Spirulina platensis. Indian Journal of Microbiology. 2008;48(3):348–352. [PMC free article]  [PubMed]

19. Heuvelink AE, Van Den Biggelaar FLAM, Zwartkruis-Nahuis JTM, et al.  Occurrence of verocytotoxin-producing Escherichia coli O157 on Dutch dairy farms. Journal of Clinical Microbiology. 1998;36(12):3480–3487. [PMC free article]  [PubMed]

20. De N, Ifeoma E. Antibacterial effects of components of the bark extract of neem (Azadirachta indica A. Juss) Technology and Development. 2002;8:23–28.

21. Postmes T, Van den Bogaard AE, Hazen M. Honey for wounds, ulcers, and skin graft preservation. The Lancet. 1993;341(8847):756–757.  [PubMed]

22. Molan PC, Russell KM. Non-peroxide antibacterial activity in some New Zealand honeys. Journal of Apicultural Research. 1988;27(1):62–67.

23. Bunting CM.  The production of hydrogen peroxide by honey and its relevance to wound healing. University of Waikato; 2001.  M.S. thesis.

24. Frankel S, Robinson GE, Berenbaum MR. Antioxidant capacity and correlated characteristics of 14 unifloral honeys. Journal of Apicultural Research. 1998;37(1):27–31.

25. Basualdo C, Sgroy V, Finola MS, Marioli JM. Comparison of the antibacterial activity of honey from different provenance against bacteria usually isolated from skin wounds. Veterinary Microbiology. 2007;124(3-4):375–381.  [PubMed]

26. Agbagwa OE, Frank-Peterside N. Effect of raw commercial honeys from nigeria on selected pathogenic bacteria. African Journal of Microbiology Research. 2010;4(16):1801–1803.

27. AI-Namma RT. Evalution of in vitro inhibitory effect of honey on some microbial isolate. Journal of Bacteriology Research. 2009;1(6):64–67.

28. Subrahmanyam M, Hemmady AR, Pawar SG. Antibacterial activity of honey on bacteria isolated from wounds. Annals of Burne and Fires Disasters. 2001;14(1):198–201.

Официален блог на WebEKM EKM очаквайте сайта онлайн скоро.

Download Free Templates http://bigtheme.net/ free full Wordpress, Joomla, Mgento - premium themes.

Website ini hanya bersifat informasinal dan tidak dimaksudkan mendiagnosis,
merawat, atau mencegah penyakit atau kondisi medis apapun. Sebelum
menggunkan bahan-bahan untuk pengobatan alami, disarankan untuk
untuk berkonsultasi dengan petugas medis profesional berlisensi.

Copyright © 2017 thibbun-nabawi.com

Powered by Warp Theme Framework
KHASIAT ANTI BAKTERI MADU MENTAH DAN MADU OLAHAN